Ilustrasi Industri China yang berdampak ke perubahan iklim dunia. Gambar oleh Nico Franz dari Pixabay
Ilustrasi Industri China yang berdampak ke perubahan iklim dunia. Gambar oleh Nico Franz dari Pixabay

B+Janji Iklim Indonesia Alami Kemunduran?

  • Di tengah krisis iklim makin mengkhawatirkan, langkah Indonesia justru terasa berat dan lamban bahkan berisiko melemah. Penundaan pengajuan dokumen second nationally determined contribution (NDC kedua) dan sinyal revisi target ambisius forestry and other land use (FoLU) Net Sink 2030 ke arah lebih lunak memunculkan kekhawatiran serius.
  • Nadia Hadad, Direktur Eksekutif Yayasan Madani Berkelanjutan mengatakan, saat dunia berada di persimpangan dalam menangani krisis iklim, justru saat inilah perlu negara-negara yang berani mengambil peran memimpin dengan ambisi tinggi. Komitmen besar dengan dukungan kebijakan konkret jauh lebih bernilai daripada sikap berhati-hati yang justru memperlambat kemajuan kolektif global.
  • Anggi Putra Prayoga, Juru Kampanye FWI, menilai strategi FoLU Net Sink 2030 sebatas retorika tanpa implementasi serius di lapangan. Data FWI mencatat, laju deforestasi dua tahun pasca pengesahan dokumen itu (2021-2023) mencapai 1,93 juta hektar. Angka ini jauh melampaui kuota pengurangan deforestasi yang Kemenhut targetkan.
  • Syahrul Fitra, Juru Kampanye Hutan Senior Greenpeace Indonesia, menyatakan, dalam upaya mencapai target NDC, seharusnya ada pelibatan nyata masyarakat adat dan komunitas lokal. Pelaksanaan target NDC oleh pemerintah minim melibatkan mereka, bahkan nyaris tidak ada sama sekali.

Di tengah kian mendesaknya krisis iklim global, langkah Indonesia justru terasa berat dan lamban. Penundaan pengajuan dokumen Second Nationally Determined Contribution (Second NDC) serta sinyal revisi target ambisius Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 ke arah yang lebih lunak memunculkan kekhawatiran serius. Sebuah ironi, mengingat posisi strategis Indonesia sebagai negara pemilik hutan tropis terbesar ketiga di dunia dan lumbung keanekaragaman hayati global.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.