Rumah warga terdampak banjir di Pahuwato. Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia
Rumah warga terdampak banjir di Pahuwato. Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia

B+Ambisi Hijau Berujung Petaka

Kerusakan hutan untuk produksi pelet kayu diduga memicu banjir dan krisis air yang merugikan warga Pohuwato.

Kerusakan hutan untuk produksi pelet kayu diduga memicu banjir dan krisis air yang merugikan warga Pohuwato.

  • Serangkaian banjir bandang di Pohuwato menelan korban jiwa, menghancurkan rumah warga, dan memicu krisis air bersih yang berlangsung hingga bertahun-tahun. Warga seperti Hasan Lakoro, Ratna Ismail, dan Wani Haniu kehilangan keluarga, rumah, serta sumber penghidupan akibat banjir yang diduga dipicu pembukaan hutan di hulu sungai.
  • Dua perusahaan Hutan Tanaman Energi—PT BTL dan PT IGL—dituding menebang ribuan hektare hutan alam untuk memasok bahan baku pelet kayu, sehingga memperparah risiko banjir dan sedimentasi sungai.Data FWI, BNPB, dan kesaksian warga menunjukkan korelasi kuat antara deforestasi di konsesi dua perusahaan itu dengan meningkatnya frekuensi banjir dan kerusakan ekologis sejak 2020.
  • Selain banjir, warga di lima kecamatan mengalami krisis air bersih karena sungai menjadi keruh dan tercemar, memaksa mereka membeli air atau mandi di sungai yang menyebabkan gatal-gatal. Meski perusahaan mengklaim aktivitasnya “hijau”, keuntungan ekonomi yang dihasilkan sangat kecil dibanding kerugian sosial-ekologis warga yang ditaksir mencapai ratusan miliar hingga triliunan rupiah.
  • Industri pelet kayu Pohuwato terhubung dengan jaringan investasi besar di Indonesia, Jepang, dan Korea Selatan, yang memanfaatkan skema energi terbarukan untuk memasok biomassa ke PLTU lewat ekspor. Paradoksnya, demi memenuhi ambisi energi bersih dua negara maju, hutan tropis Pohuwato ditebang, masyarakat kehilangan kehidupan, dan bencana ekologis terus menghantui wilayah tersebut.

Langit di atas Desa Tuweya, Kecamatan Wanggarasi, Gorontalo, berwarna kelabu pekat sore itu. Bau lumpur dan kayu busuk memenuhi udara. Di tengah lahan becek, Hasan Lakoro berdiri mematung di antara sisa puing rumahnya. Di bawah kakinya, tanah retak dan basah, bekas terjangan air bah yang datang bagai monster yang mengamuk.

Di sana, di tempat yang kini kosong, dulu berdiri rumah sederhana. Dari terasnya, tawa Laras Tiari Lakoro—putri semata wayangnya yang berusia 15 tahun—biasa terdengar hingga ke jalan desa. Kini, yang tersisa hanya foto kecil siswa kelas 3 SMP itu dalam bingkai patah dan suara lirih Hasan, “Dia ditemukan keesokan pagi, di bawah banjir bandang.”

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.