Julang sulawesi yang merupakan burung endemik Sulawesi ini bisa ditemukan di hutan Tangkoko. Foto: Rhett A. Butler/Mongabay Indonesia
Julang sulawesi yang merupakan burung endemik Sulawesi ini bisa ditemukan di hutan Tangkoko. Foto: Rhett A. Butler/Mongabay Indonesia

B+TFFF: Solusi untuk Hutan atau Bentuk Kapitalisme Hijau?

  • Brasil akan menjadi tuan rumah Konferensi Para Pihak Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (Conference of Parties ob Climate/ (COP30) di Belém do Pará, November 2025. Ajang ini rencananya jadi momentum peluncuran Tropical Forest Finance Facility (TFFF) atau Fasilitas Pembiayaan Hutan Tropis.
  • Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva mengatakan, TFFF adalah alat yang belum pernah ada sebelumnya dalam perjuangan melawan perubahan iklim. Brasil akan memimpin dan memberi contoh dengan menginvestasikan US$1 miliar pertama.
  • Tropical Forest Finance Facility (TFFF)menjanjikan pembayaran US$4 per hektar hutan yang masih berdiri, tanpa campur tangan dalam penggunaan dan alokasinya. TFFF menetapkan satu ketentuan penting, minimal 20% dana atau sekitar 80 sen per hektar per tahun harus teralokasi untuk masyarakat adat dan komunitas lokal (IPLCs) yang menjadi penjaga hutan.
  • Mary Louise Malig, Direktur Kebijakan Global Forest Coalition dan Pablo Solón, Direktur Eksekutif Fundación Solón,  mengatakan, TFFF sebenarnya berpijak pada fondasi kapitalisme hijau—sebuah pendekatan yang mencoba menjadikan ekosistem sebagai bagian dari pasar.
  • Mereka menilai, dengan memonetisasi fungsi alam bisa membuka jalan bagi dominasi korporasi atas sumber daya. Sekaligus, bisa menggeser peran masyarakat adat atau lokal yang selama ini hidup selaras dengan hutan tanpa perlu memberi harga pada pohon.

Brasil akan menjadi tuan rumah Konferensi Para Pihak ke-30 Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (COP30) di Belém do Pará, November 2025 mendatang. Momentum ini akan dimanfaatkan Brasil untuk meluncurkan Tropical Forest Finance Facility (TFFF) atau Fasilitas Pembiayaan Hutan Tropis.

TFFF lahir dari kerja sama Brasil, Indonesia, dan Republik Demokratik Kongo—tiga negara yang menguasai sekitar 52 persen hutan hujan dunia. Ide awalnya sudah muncul sejak 15 tahun lalu oleh Kenneth Lay, mantan eksekutif Bank Dunia, dan mulai mendapat bentuk konkret pada 2018 lewat proposal Center for Global Development. Brasil mengadopsi gagasan ini dan memperkenalkannya di COP28, Dubai.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.