Lokasi pembangunan Proyek Strategis Nasional Bendungan Bulangu Ulu (Foto: Sarjan Lahay)
Lokasi pembangunan Proyek Strategis Nasional Bendungan Bulangu Ulu (Foto: Sarjan Lahay)

B+Delusi Proyek Bendungan Bulango Ulu

  • Pembangunan Bendungan Bulango Ulu yang seharusnya mendukung sektor pertanian, justru meminggirkan petani. Mereka kehilangan mata pencaharian akibat PSN ini.
  • Proyek ini juga membuat sebagian petani terkatung-katung tak tahu arah untuk mencari hidup. Kondisi ini membuat mereka harus mencari cara lain untuk bertahap hidup.
  • Bendungan ini disebut bukan solusi untuk pertanian di Gorontalo. Sebaliknya, mega proyek ini diprediksi akan berdampak buruk secara ekologis dan membuat petani semakin rentan.
  • PSN ini juga dinilai bisa memperparah krisis iklim karena bisa memicu gas metana, serta mendorong deforestasi. Pembangunannya juga menafikan partisipasi masyarakat.

Di atas bukit, sejumlah ekskavator terlihat giat membongkar gunung, memindahkan bongkahan batuan dan pasir ke dalam deretan dump truk berkapasitas 30 ton yang rapi terparkir di tepi jalan. Di samping kendaraan, para pekerja berseragam proyek dengan mantel cerah dan helm pelindung terlihat mengarahkan supir dump truk agar tidak tergelincir.

Inilah suasana di lokasi pembangunan Bendungan Bolango Ulu, sebuah Proyek Strategis Nasional (PSN) senilai Rp2,4 triliun. Bendungan ini akan dibangun dengan tinggi 65,9 meter dan luas genangan 483 hektar, mencakup tiga desa di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Tiga desa itu yaitu; Desa Tuloa, Owata dan Mongiilo.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Masa Depan Lingkungan Hidup Suram di Tangan Kabinet Merah Putih
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.