Aktivitas tambang emas ilegal di Pohuwato, Gorontalo yang meninggalkan lubang besar. Foto: Sarjan Lahay
Aktivitas tambang emas ilegal di Pohuwato, Gorontalo yang meninggalkan lubang besar. Foto: Sarjan Lahay

B+Wabah di Tanah Tambang

PETI di Pohuwato memicu wabah malaria dan pencemaran merkuri yang meluas.

PETI di Pohuwato memicu wabah malaria dan pencemaran merkuri yang meluas.

  • Di Pohuwato, aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) mengubah bentang alam menjadi kubangan yang menjadi tempat ideal berkembang biaknya nyamuk malaria.
  • Di tengah lonjakan kasus dan status KLB yang belum dicabut, warga kini hidup berdampingan dengan wabah yang tumbuh dari kerusakan lingkungan itu sendiri.
  • Sementara pengobatan berjalan, sumber persoalan di hulu—hutan yang rusak dan pencemaran merkuri—masih terus mengalir tanpa henti.

Di Pohuwato, perubahan lingkungan akibat aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang menggunakan alat berat tidak hanya terlihat dari petani yang gagal panen atau tanah yang terbuka atau hutan yang hilang. Kondisi itu juga mulai tercermin dalam tubuh warganya. Air yang menggenang, udara yang berubah, dan ekosistem yang terganggu menciptakan kondisi yang tidak lagi stabil bagi kehidupan manusia.

Di banyak titik, batas antara ruang tambang dan permukiman menjadi kabur. Lumpur, genangan, dan debu menjadi bagian dari keseharian. Dalam kondisi seperti itu, membuat malaria tidak lagi sekadar penyakit tropis, tetapi menjadi cermin dari kerusakan lingkungan yang lebih luas di Pohuwato.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.