Ketika Sampah Menjadi Berkah

Mahasiswi Jurusan Biologi UNPAM yang melakukan kunjungan lapangan ke empat pengepulan sampah di Serang.
Mahasiswi Jurusan Biologi UNPAM yang melakukan kunjungan lapangan ke empat pengepulan sampah di Serang.
  • Tempat pengepulan sampah di Serang menunjukkan bahwa limbah bukan akhir dari siklus, melainkan awal dari nilai ekonomi baru yang menghidupi banyak keluarga.
  • Di balik tumpukan sampah, ekonomi sirkular bekerja senyap mengurangi beban lingkungan sekaligus menekan potensi pencemaran yang lebih besar.
  • Sudah saatnya peran para pengepul dan pemulung diakui sebagai bagian penting dari sistem penyelamatan lingkungan, bukan sekadar pekerjaan pinggiran.

Di tengah meningkatnya kecemasan dunia terhadap krisis lingkungan, perubahan iklim, dan ledakan sampah perkotaan, masih ada ironi yang sulit diabaikan: sebagian besar masyarakat ingin hidup bersih, tetapi sedikit yang benar-benar peduli ke mana sampah mereka berakhir. Plastik dibuang, kardus disingkirkan, botol kaca dilepaskan dari genggaman, lalu semuanya lenyap dari pandangan seolah persoalan selesai begitu saja.

Padahal, bagi lingkungan, sampah tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah tempat—ke sungai, ke tanah kosong, ke tempat pembuangan akhir, atau diam-diam meracuni tanah dan air yang menopang kehidupan manusia sendiri.

Di sudut Kota Serang, jauh dari hiruk-pikuk permukiman dan aktivitas perkuliahan Universitas Pamulang, terdapat sebuah tempat pengepulan sampah yang menjadi saksi dari kenyataan tersebut. Lokasinya sederhana, bahkan cenderung kumuh.

Aroma menyengat menyeruak sejak memasuki area itu. Tumpukan karung dan limbah plastik berserakan di berbagai sudut. Tidak ada kesan modern atau ramah lingkungan seperti yang sering dipromosikan dalam seminar-seminar tentang pembangunan berkelanjutan.Namun justru di tempat seperti inilah ekonomi sirkular bekerja secara nyata.

Tempat pengepulan itu dikelola oleh Pak Siroj, seorang pelaku usaha lokal yang sejak 2016 menekuni bisnis pengumpulan dan pemilahan sampah daur ulang. Di atas lahan sekitar 300 meter persegi, ia membangun mata rantai kecil yang menghubungkan sampah rumah tangga dengan industri daur ulang. Enam orang pekerja tetap menggantungkan hidup dari usaha ini. Belum termasuk puluhan pemulung yang setiap hari datang menjual hasil pungutan mereka.

Di mata sebagian orang, sampah hanyalah benda kotor yang harus segera disingkirkan. Namun di tangan para pengepul, limbah berubah menjadi komoditas ekonomi. Botol plastik, besi bekas, kardus, hingga tutup botol memiliki nilai jual tersendiri. Tidak ada yang benar-benar dianggap sia-sia.

Pemandangan di dalam lokasi pengepulan menunjukkan bagaimana sistem itu bekerja. Pipa paralon atau PVC dipisahkan secara khusus untuk dikirim ke pabrik dan diolah menjadi bahan baku plafon baru. Kain berbahan karet ditumpuk untuk kemudian diproses menjadi karpet mobil. Botol kaca dipilah berdasarkan warna. Kardus disusun rapi dalam ikatan besar. Bahkan tutup botol plastik yang sering dianggap remeh ternyata memiliki pasar tersendiri.

Harga jualnya memang tidak fantastis. Plastik PET dihargai sekitar Rp5.000 per kilogram, besi Rp4.500 per kilogram, kardus Rp1.800 per kilogram, sedangkan tutup botol sekitar Rp4.000 per kilogram. Namun dari benda-benda itulah roda ekonomi rakyat bergerak setiap hari. Barang yang sebelumnya dianggap tak berguna berubah menjadi sumber penghasilan.

Tembaga menjadi salah satu material dengan nilai tertinggi, mencapai Rp80.000 per kilogram. Nilai itu memperlihatkan bahwa limbah sebenarnya menyimpan potensi ekonomi besar apabila dikelola dengan benar. Persoalannya, masyarakat masih lebih terbiasa membuang daripada memilah.

Padahal proses di tempat pengepulan tidak sesederhana mengumpulkan lalu menjual kembali. Sampah harus melalui tahapan pemilahan yang ketat agar tidak tercampur dengan limbah B3 atau bahan berbahaya dan beracun. Kesalahan kecil dapat berdampak besar, baik bagi pekerja maupun lingkungan sekitar. Setelah dipilah dan dibersihkan, sampah dikemas dalam karung besar sebelum dikirim ke pabrik daur ulang ketika jumlahnya sudah mencapai satu truk atau minimal lima ton.

Kadang Pak Siroj sendiri yang mengantar barang menggunakan truk ke pabrik-pabrik di luar kota. Di waktu lain, pihak pabrik yang datang menjemput langsung. Seluruh sampah kemudian ditimbang ulang untuk memastikan kesesuaian volume dan harga jual. Di balik aktivitas yang tampak sederhana itu, terdapat rantai ekonomi yang bekerja secara disiplin dan terus berputar.

Yang lebih menarik, usaha seperti ini ternyata berjalan tanpa dukungan birokrasi yang jelas. Menurut Pak Siroj, dirinya hanya perlu memberi tahu pihak kelurahan atau kecamatan setempat untuk menjalankan usaha tersebut. Tidak ada sistem perizinan khusus yang benar-benar terstruktur bagi usaha pengelolaan sampah skala menengah.

Kondisi ini memperlihatkan dua wajah sekaligus. Di satu sisi, fleksibilitas tersebut memberi ruang bagi usaha rakyat untuk bertahan hidup tanpa terbebani administrasi rumit. Namun di sisi lain, absennya regulasi yang kuat menunjukkan bahwa negara belum sepenuhnya memandang pengelolaan sampah sebagai sektor strategis yang layak didukung secara serius.

Padahal, persoalan sampah di Indonesia bukan lagi isu kecil. Produksi sampah perkotaan terus meningkat setiap tahun, sementara kapasitas tempat pembuangan akhir semakin terbatas. Banyak TPA di berbagai daerah mengalami kelebihan kapasitas. Gunungan sampah tumbuh lebih cepat dibanding kemampuan pemerintah mengelolanya.

Dalam situasi seperti itu, pengepul dan pemulung justru menjadi aktor informal yang diam-diam mengurangi beban lingkungan. Mereka bekerja tanpa sorotan, tanpa penghargaan besar, tetapi kontribusinya nyata. Setiap kilogram plastik yang berhasil dipilah berarti satu langkah kecil untuk mengurangi pencemaran.

Tanpa keberadaan tempat pengepulan seperti milik Pak Siroj, sebagian besar sampah anorganik kemungkinan besar akan berakhir di sungai, dibakar sembarangan, atau menumpuk di TPA. Plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Logam berat dari limbah tertentu dapat meresap ke tanah dan mencemari air tanah warga. Dalam jangka panjang, dampaknya bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat.

Mahasiswi Jurusan Biologi UNPAM yang melakukan kunjungan lapangan ke lokasi tersebut menyoroti ancaman lain yang jarang dibicarakan: terganggunya rantai makanan mikroorganisme tanah. Sampah B3 yang tercampur dengan limbah biasa dapat merusak habitat organisme pengurai seperti cacing tanah, rayap, dan mikroba. Padahal organisme-organisme kecil itu memegang peran penting dalam menjaga kesuburan tanah.

Kerusakan ekologis sering kali dimulai dari hal-hal kecil yang tidak terlihat. Ketika tanah kehilangan kemampuan alami untuk memperbarui unsur hara, kualitas lingkungan perlahan menurun. Vegetasi terganggu, produktivitas pertanian menurun, dan keseimbangan ekosistem rusak sedikit demi sedikit.

Belum lagi persoalan emisi gas rumah kaca. Sampah organik yang bercampur di tempat pembuangan akhir menghasilkan gas metana, salah satu gas dengan efek pemanasan global jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida. Dalam banyak kasus, masyarakat tidak menyadari bahwa sampah rumah tangga mereka ikut berkontribusi terhadap krisis iklim global.

Karena itu, keberadaan pengepul sesungguhnya bukan hanya soal ekonomi, melainkan bagian dari sistem pertahanan lingkungan. Mereka menjadi lapisan pertama yang mencegah sampah langsung berakhir di TPA.

Sayangnya, profesi ini masih dipandang rendah. Pemulung dan pengepul sering diasosiasikan dengan kemiskinan, kekotoran, dan keterbelakangan. Mereka bekerja di sektor informal yang nyaris tak tersentuh perlindungan sosial memadai. Padahal tanpa mereka, kota-kota mungkin sudah menghadapi bencana sampah yang jauh lebih serius.

Di banyak negara maju, konsep ekonomi sirkular telah menjadi kebijakan nasional. Sampah dipandang sebagai sumber daya yang harus terus diputar dalam rantai produksi agar tidak menjadi limbah akhir. Indonesia sebenarnya memiliki praktik serupa sejak lama melalui aktivitas pemulung dan pengepul. Bedanya, sistem ini tumbuh secara organik dari kebutuhan ekonomi masyarakat bawah, bukan dari desain kebijakan negara.

Ironisnya, mereka yang menjalankan praktik ekonomi sirkular justru sering menjadi kelompok yang paling terpinggirkan.

Apa yang dilakukan Pak Siroj dan para pekerjanya menunjukkan bahwa penyelamatan lingkungan tidak selalu lahir dari ruang konferensi mewah, seminar internasional, atau jargon pembangunan berkelanjutan. Kadang, ia tumbuh dari tempat-tempat sederhana yang dipenuhi bau sampah dan peluh pekerja.

Di lokasi pengepulan itu, manusia dan limbah memiliki hubungan yang unik. Sampah yang dibuang oleh satu kelompok masyarakat menjadi sumber kehidupan bagi kelompok lainnya. Barang-barang yang dianggap tidak bernilai justru menjadi penopang ekonomi keluarga kecil di pinggiran kota.

Mungkin sudah waktunya cara pandang terhadap sampah diubah. Bahwa persoalan terbesar bukan terletak pada keberadaan sampah itu sendiri, melainkan pada kegagalan manusia mengelolanya. Dan di tengah kegagalan sistem formal tersebut, para pengepul hadir sebagai garda depan yang bekerja dalam diam.

Mereka bukan sekadar pengumpul barang bekas. Mereka adalah pekerja lingkungan yang selama ini jarang diakui keberadaannya.


Redaksi menerima artikel opini dengan panjang cerita minimal 700 kata, dan tidak sedang dikirim ke media lain. Sumber rujukan disebutkan lengkap pada tubuh tulisan. Kirim tulisan ke e-mail redaksibenua@gmail.com disertai dengan foto profil, nomor kontak, dan profil singkat.

Mahasiswi Biologi Universitas Pamulang Serang. Menyukai kegiatan riset lapangan berbasis konservasi dan ekonomi sirkular.