- Perubahan iklim bukan lagi ancaman jauh di masa depan, melainkan krisis yang sudah bekerja diam-diam di desa-desa seperti Malanggah.
- Dampaknya merembes dari sawah yang gagal panen hingga terganggunya keseimbangan sosial ekonomi warga.
- Jika dibiarkan, yang hilang bukan hanya musim yang tak menentu, tetapi juga masa depan kehidupan desa itu sendiri.
Perubahan iklim tidak lagi dapat diperlakukan sebagai wacana global yang jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat desa. Ia telah menjadi realitas yang hadir secara perlahan, senyap, tetapi konsisten mengubah cara manusia bertahan hidup. Di Desa Malanggah, Kecamatan Tunjung Teja, perubahan itu tidak datang sebagai peristiwa besar yang tiba-tiba, melainkan sebagai akumulasi gangguan kecil yang terus berulang: musim yang bergeser, hujan yang tak menentu, tanah yang kian rapuh, dan hasil panen yang semakin tidak pasti.
Selama bertahun-tahun, perubahan iklim kerap dibicarakan dalam konteks kota besar, emisi industri, atau negara-negara maju. Narasi tersebut membuat seolah-olah desa berada di luar pusaran persoalan. Padahal, desa justru berada di garis depan dampaknya. Ketika sistem iklim global terganggu, yang pertama kali merasakan akibatnya bukan gedung-gedung tinggi atau pusat industri, melainkan lahan pertanian yang bergantung penuh pada keteraturan alam.
Sudah Berlangganan? Masuk Di Sini
- ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
- ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
- ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
- ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan
Kami menerima metode pembayaran












Leave a Reply
View Comments