B+Eco-Socialism: Kritik Sistem Ekonomi yang Merusak Lingkungan

Tambang nikel di sejumlah wilayah di Pulau Sulawesi berdampak pada deforestasi dan terampasnya ruang hidup petani, nelayan dan masyarakat adat. Foto: WALHI.
Tambang nikel di sejumlah wilayah di Pulau Sulawesi berdampak pada deforestasi dan terampasnya ruang hidup petani, nelayan dan masyarakat adat. Foto: WALHI.
  • Krisis lingkungan bukan sekadar bencana alam, melainkan akibat dari sistem ekonomi yang terus mengeksploitasi bumi demi pertumbuhan tanpa batas.
  • Eco-socialism mengingatkan bahwa tanpa perubahan mendasar terhadap cara produksi dan konsumsi, kerusakan ekologis akan terus meluas bersama ketimpangan sosial.
  • Di tengah ancaman krisis iklim global, pertarungan terbesar manusia bukan hanya menyelamatkan ekonomi, tetapi juga menyelamatkan masa depan bumi.

Kerusakan lingkungan global dalam beberapa dekade terakhir tidak lagi sekadar dipahami sebagai persoalan pencemaran atau dampak teknis dari industrialisasi. Krisis ekologis telah berkembang menjadi persoalan struktural yang berkaitan langsung dengan cara ekonomi global diorganisasi.

Perubahan iklim, degradasi lahan, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga krisis air dan pangan menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan teknis atau inovasi teknologi semata. Di balik seluruh persoalan tersebut, terdapat sistem ekonomi yang mendorong eksploitasi sumber daya alam secara terus-menerus demi pertumbuhan tanpa batas.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Alumnus Magister Ekonomi Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia juga aktif sebagai penulis lepas, dan memiliki ketertarikan pada isu lingkungan, Pendidikan dan Ekonomi.