B+Panas Ekstrem Perburuk Stabilitas Fiskal Rumah Tangga

Panas akibat perubahan iklim kini mengancam kesehatan dan ekonomi kelompok paling rentan.

Ilustrasi El Nino yang membuat tanah-tanah mengalami keretakan karena kekeringan. (Foto: Pixabay.com)
Ilustrasi El Nino yang membuat tanah-tanah mengalami keretakan karena kekeringan. (Foto: Pixabay.com)
  • Gelombang panas kini berdampak langsung pada kesehatan dan ekonomi masyarakat.
  • Pekerja informal dan kelompok miskin menjadi pihak paling rentan terhadap krisis panas.
  • Adaptasi iklim diperlukan untuk melindungi pendapatan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.

Akhir Juni 2026, Prancis mencatat hari terpanas dalam sejarahnya: 43,8 derajat Celsius. Spanyol mencatat bulan Juni terpanas yang pernah ada. Suhu rata-rata global kini sudah 1,44 derajat Celsius di atas era pra-industri.

Angka-angka ini bukan sekadar catatan cuaca—ia adalah pertanda dari sesuatu yang jauh lebih personal: uang yang menghilang dari kantong jutaan orang di seluruh dunia, satu gelombang panas demi gelombang panas.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Perdagangan Karbon Jalan Sesat Atasi Krisis Iklim
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.