B+Ironi Program Perhutanan Sosial di Indonesia

Tanah untuk Masyarakat, Keputusan dan hak atas tanah tersebut dikuasai negara.

Kondisi hutan Pohuwato yang kini menjadi wilayah konsesi BTL dan terancam rusak akibat deforestasi. Foto: FWI
Kondisi hutan Pohuwato yang kini menjadi wilayah konsesi BTL dan terancam rusak akibat deforestasi. Foto: FWI
  • KHDPK memberi masyarakat akses mengelola hutan, tetapi partisipasi mereka masih sebatas administratif.
  • Petani menginginkan kemitraan nyata, bukan sekadar dilibatkan dalam proses pendaftaran.
  • Perhutanan sosial perlu membuka ruang keputusan bagi masyarakat agar hak kelola benar-benar berarti.

Bayangkan Anda seorang petani di lereng bukit Probolinggo, Jawa Timur. Sudah puluhan tahun keluarga Anda menggarap sepetak lahan di bawah naungan pohon sengon dan mahoni, menanam mangga manalagi, bawang merah, dan jagung di sela-selanya—model pertanian yang disebut agroforestri, yang menghidupi hampir separuh penduduk kabupaten ini.

Lalu suatu hari, pemerintah mengumumkan program besar: tanah hutan negara yang selama ini Anda garap kini resmi bisa dikelola komunitas Anda lewat program bernama Kawasan Hutan dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK), program perhutanan sosial paling ambisius yang pernah diluncurkan di Pulau Jawa.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Kakap Merah di Ambang Krisis
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.