B+Potret Buram Pemodelan Kualitas Udara Indonesia

Pemodelan maju, tetapi data dan kebijakan masih tertinggal.

Kebut pekat polusi udara di atas langit Jakarta, seakan jadi pemandangan sehari-hari. Foto: Sapariah Saturi/ Mongabay Indonesia
Kebut pekat polusi udara di atas langit Jakarta, seakan jadi pemandangan sehari-hari. Foto: Sapariah Saturi/ Mongabay Indonesia
  • Pemodelan kualitas udara Indonesia semakin canggih, tetapi masih terkendala keterbatasan dan ketimpangan data.
  • Penelitian masih terkonsentrasi di Jawa dan Sumatra, sementara Indonesia timur minim pemantauan.
  • Hasil pemodelan belum optimal dimanfaatkan sebagai dasar kebijakan pengendalian pencemaran udara.

Setiap kali langit Jakarta berubah abu-abu, atau kabut asap dari kebakaran hutan Sumatra dan Kalimantan menyelimuti kota-kota tetangga hingga negara seberang, pertanyaan yang sama selalu muncul: seberapa buruk sebenarnya udara yang sedang kita hirup, dan dari mana asalnya?

Untuk menjawab pertanyaan semacam itu, para ilmuwan mengandalkan alat yang disebut model kualitas udara — program komputer yang mensimulasikan bagaimana polutan bergerak, menyebar, dan terurai di atmosfer, sehingga bisa memperkirakan konsentrasi polusi di suatu tempat bahkan sebelum benar-benar diukur langsung di lapangan.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Patahan Purba dan Jejak Amblesnya Tanah Semarang
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.