- Restorasi gambut tidak cukup hanya dengan membasahi lahan, tetapi harus memulihkan ekosistem secara menyeluruh.
- Kesejahteraan masyarakat dan tata kelola menjadi kunci agar restorasi gambut dapat bertahan dalam jangka panjang.
- Keberhasilan restorasi harus diukur dari dampak nyata, bukan hanya jumlah kanal yang disekat atau lahan yang dipulihkan.
Di sudut Kalimantan Tengah, ada sebidang lahan yang oleh sebagian orang disebut sebagai “monumen kegagalan”. Namanya Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektare, atau lebih dikenal sebagai Mega Rice Project—rencana ambisius era 1990-an untuk mengubah rawa gambut menjadi sawah raksasa.
Kanal-kanal digali sepanjang ribuan kilometer untuk mengeringkan lahan. Hasilnya bukan lumbung padi, melainkan bencana ekologis: gambut yang kehilangan air menjadi rapuh, mudah ambles, dan berubah menjadi bahan bakar raksasa yang menyalakan kebakaran hebat setiap musim kemarau.
Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
Sudah Berlangganan? Masuk Di Sini
- ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
- ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
- ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
- ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan
Kami menerima metode pembayaran
DANA
gopay
OVO
ShopeePay
QRIS
Dan lainnya












Leave a Reply
View Comments