B+Mengapa Restorasi Gambut Indonesia Masih Tertatih-tatih?

Restorasi gambut harus menyeluruh agar benar-benar berkelanjutan.

Gambar udara yang menunjukkan luasnya deforestasi di lahan gambut yang kaya karbon dalam konsesi kayu pulp PT Mayawana Persada Juli 2023, (Foto: Auriga Nusantara)
Gambar udara yang menunjukkan luasnya deforestasi di lahan gambut yang kaya karbon dalam konsesi kayu pulp PT Mayawana Persada Juli 2023, (Foto: Auriga Nusantara)
  • Restorasi gambut tidak cukup hanya dengan membasahi lahan, tetapi harus memulihkan ekosistem secara menyeluruh.
  • Kesejahteraan masyarakat dan tata kelola menjadi kunci agar restorasi gambut dapat bertahan dalam jangka panjang.
  • Keberhasilan restorasi harus diukur dari dampak nyata, bukan hanya jumlah kanal yang disekat atau lahan yang dipulihkan.

Di sudut Kalimantan Tengah, ada sebidang lahan yang oleh sebagian orang disebut sebagai “monumen kegagalan”. Namanya Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektare, atau lebih dikenal sebagai Mega Rice Project—rencana ambisius era 1990-an untuk mengubah rawa gambut menjadi sawah raksasa.

Kanal-kanal digali sepanjang ribuan kilometer untuk mengeringkan lahan. Hasilnya bukan lumbung padi, melainkan bencana ekologis: gambut yang kehilangan air menjadi rapuh, mudah ambles, dan berubah menjadi bahan bakar raksasa yang menyalakan kebakaran hebat setiap musim kemarau.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Rahasia Pertanian Berkelanjutan yang Mengubah Nasib Petani
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.