B+Paradoks di Balik Elektrifikasi Indonesia

Listrik Masuk Desa, Ketimpangan Justru Naik: Mengapa Perluasan Akses Energi Tak Otomatis Membawa Pemerataan?

Mahmud Idris saat di PLTS yang ada di Desa Ilomata (Foto: Sarjan Lahay)
Mahmud Idris saat di PLTS yang ada di Desa Ilomata (Foto: Sarjan Lahay)
  • Perluasan akses listrik tidak otomatis mengurangi ketimpangan, bahkan dalam jangka pendek–menengah dapat memperlebar kesenjangan karena manfaat listrik lebih cepat dimanfaatkan oleh masyarakat yang memiliki modal, pendidikan, dan keterampilan.
  • Energi memasak bersih lebih efektif dalam mengurangi ketimpangan karena manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh berbagai kelompok masyarakat, terutama melalui peningkatan kesehatan, penghematan waktu, dan produktivitas rumah tangga.
  • Kebijakan energi perlu disertai peningkatan kapabilitas masyarakat, seperti pendidikan, pelatihan, akses modal, literasi digital, dan akses pasar, agar listrik tidak hanya tersedia, tetapi juga mampu menciptakan peluang ekonomi yang merata.

Selama lebih dari satu dekade, pemerintah Indonesia menjadikan elektrifikasi sebagai salah satu kebanggaan pembangunan. Dari desa-desa terpencil di pedalaman Papua hingga pulau-pulau kecil di Nusa Tenggara, tiang-tiang listrik terus dipasang, dan pada 2022 hampir seluruh wilayah Indonesia sudah teraliri listrik: 99,87 persen di kota dan 98,12 persen di desa. Sebuah pencapaian yang di atas kertas terlihat seperti kabar baik bagi pemerataan kesejahteraan.

Tapi sebuah kajian terbaru yang terbit di jurnal Energy Nexus milik Elsevier mengungkap sesuatu yang mengusik anggapan itu. Riset itu ditulis oleh Ferry Sutiono, peneliti dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan yang juga menempuh studi di Universitas Indonesia, bersama Djoni Hartono dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Perubahan Iklim Mengancam Habitat Peneluran Penyu di Indonesia
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.