B+Di Balik Konflik Tambang Emas di Gorontalo

Ketika Legalitas Berhadapan dengan Sejarah Hidup Penambang Rakyat.

Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Kecamatan Dengilo, Kabupaten Pohuwato. (Foto: Sarjan Lahay)
Aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Kecamatan Dengilo, Kabupaten Pohuwato. (Foto: Sarjan Lahay)
  • Konflik tambang Gorontalo berakar dari perebutan legitimasi antara perusahaan dan penambang rakyat.
  • Legalitas perusahaan berhadapan dengan sejarah dan mata pencaharian penambang rakyat yang telah lama menggarap wilayah tersebut.
  • Pelibatan penambang rakyat dalam tata kelola tambang menjadi kunci untuk mencegah konflik berulang.

Pada 2023, sekitar 2.500 warga dan penambang emas rakyat di Pohuwato, Gorontalo, turun ke jalan. Mereka memprotes cara sebuah perusahaan tambang menangani kompensasi lahan di Gunung Pani. Perusahaan tersebut telah mengantongi izin lingkungan dan mulai membangun fasilitas di atas tanah yang selama puluhan tahun digarap oleh penambang rakyat setempat.

Aksi unjuk rasa itu kemudian berubah menjadi kerusuhan. Kantor pemerintah daerah dibakar, kerugian ditaksir mencapai Rp50 miliar, dan lebih dari 35 warga serta aktivis ditangkap.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Ironi Program Perhutanan Sosial di Indonesia
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.