B+Dari Hutan Pinus yang Sunyi Menuju Lanskap yang Hidup

Sekelompok petani mencoba mengubah hutan monoton itu menjadi lanskap yang menghidupi

Hutan Pinus Dulamayo menawarkan pesona alam yang asri dengan udara sejuk khas dataran tinggi/Hibata.id
Hutan Pinus Dulamayo menawarkan pesona alam yang asri dengan udara sejuk khas dataran tinggi/Hibata.id
  • Perhutanan sosial membuka peluang mengubah hutan pinus monokultur menjadi lanskap yang lebih beragam dan produktif.
  • Petani Maros tidak hanya bergantung pada getah pinus, tetapi juga memanfaatkan hutan untuk pangan, pendapatan, dan jasa lingkungan.
  • Transformasi menuju hutan multifungsi masih bertahap, sehingga membutuhkan dukungan dan pengelolaan jangka panjang.

Di kaki perbukitan Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, ada sebidang hutan seluas hampir 237 hektare yang menyimpan sejarah panjang tentang bagaimana negara dan warga saling berebut—dan akhirnya berbagi—kendali atas sepetak tanah.

Hutan ini dikelola oleh Kelompok Tani Abulo Sibatang, dan kisahnya menjadi bahan sebuah studi baru yang terbit di jurnal Trees, Forests and People, ditulis oleh Supratman dan timnya dari Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin bersama peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Konservasi Tanpa Negara di Pedalaman Indonesia
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.