B+Kisah di Balik Kampung Iklim Terbaik Lombok Timur

Hutan dan mata air yang terjaga, tapi kelembagaan dan ekonomi hijau yang nyaris lumpuh

Desa Pesanggrahan, Kabupaten Lombok Timur. (Foto: istw)
Desa Pesanggrahan, Kabupaten Lombok Timur. (Foto: istw)
  • Prestasi ekologis belum menjamin keberlanjutan. Meski meraih penghargaan ProKlim Utama, keberlanjutan Joben Lestari hanya mencapai 28,79%.
  • Kelembagaan dan ekonomi menjadi titik lemah utama. Pengelolaan usaha hanya mencapai 11,08%, sementara kelembagaan berada di 23,28%, sehingga potensi ekonomi hijau belum berkembang.
  • ProKlim perlu beralih dari sekadar aksi lingkungan menuju kemandirian. Penguatan tata kelola, bisnis hijau, teknologi, pengetahuan, dan kemitraan menjadi kunci agar keberhasilan konservasi benar-benar meningkatkan kesejahteraan warga.

Di lereng selatan Gunung Rinjani, di Dusun Joben, Desa Pesanggrahan, Kabupaten Lombok Timur, delapan puluh empat mata air mengalir tanpa henti sepanjang tahun. Airnya menghidupi 818 penduduk di 265 rumah tangga, mengairi sawah, kolam ikan, dan kebun organik warga.

Di sinilah, bertahun-tahun lalu, sebuah kelompok bernama ProKlim Joben Lestari dibentuk sebagai bagian dari Program Kampung Iklim—strategi nasional untuk mendorong adaptasi dan mitigasi perubahan iklim dari akar rumput. Usaha mereka membuahkan hasil: penghargaan ProKlim Utama, status tertinggi yang bisa diraih sebuah kampung iklim di Indonesia.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  El Nino Datang, Krisis Pangan Menghadang
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.