B+Cerita 13 Tahun Menyusuri Gambut Kalimantan

Api, kanal, dan sungai membentuk ulang peta karbon di jantung Kalimantan Tengah

Gambar udara yang menunjukkan luasnya deforestasi di lahan gambut yang kaya karbon dalam konsesi kayu pulp PT Mayawana Persada Juli 2023, (Foto: Auriga Nusantara)
Gambar udara yang menunjukkan luasnya deforestasi di lahan gambut yang kaya karbon dalam konsesi kayu pulp PT Mayawana Persada Juli 2023, (Foto: Auriga Nusantara)
  • Api dan kanal mempercepat kehancuran hutan gambut. Kebakaran berulang, terutama di dekat kanal dan sungai, dapat menurunkan biomassa hingga hampir habis.
  • Penebangan selektif juga menjadi ancaman serius. Bahkan tanpa kebakaran, penebangan berkelanjutan terbukti mengurangi cadangan biomassa dan karbon hutan gambut.
  • Hutan yang masih utuh menyimpan misteri. Beberapa kawasan yang jauh dari gangguan justru menunjukkan pertumbuhan biomassa yang sangat cepat, sehingga mekanismenya masih menjadi pertanyaan penting bagi penelitian berikutnya.

Di suatu titik antara Sungai Kapuas dan Sungai Mantangai, Kalimantan Tengah, terhampar kubah gambut raksasa seluas lebih dari 310 ribu hektare. Dari udara, ia tampak seperti gundukan raksasa yang menyembul lembut dari tanah basah—hasil endapan bahan organik yang terkumpul selama ribuan tahun.

Di baliknya tersimpan salah satu cadangan karbon paling padat di dunia: hutan rawa gambut yang utuh bisa menyimpan sekitar 220 ton karbon per hektare hanya dari batang, cabang, dan daun pohonnya—belum termasuk gambut di bawahnya yang jauh lebih besar lagi.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Alam Rusak, Masa Depan Terancam
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.