- Penurunan tanah Semarang bukan semata akibat penyedotan air tanah, tetapi juga dipengaruhi struktur geologi berupa patahan purba di bawah kota.
- Kawasan dengan kandungan lempung smektit dan struktur patahan tertentu lebih rentan ambles, dengan laju penurunan di sejumlah wilayah pesisir mencapai lebih dari 15 sentimeter per tahun.
- Penanganan penurunan tanah perlu dilakukan secara lebih spesifik berdasarkan kondisi geologi tiap kawasan, tidak cukup hanya dengan membatasi penggunaan air tanah.
Selama lebih dari satu dekade, ceritanya selalu sama setiap kali orang membahas mengapa Semarang perlahan tenggelam: penduduknya terlalu banyak menyedot air tanah, bebannya terlalu berat karena pembangunan gedung dan infrastruktur yang terus bertambah, lalu tanah lempung di bawahnya yang lunak akhirnya mengempis seperti spons yang diperas.
Penjelasan itu tidak salah. Tapi menurut sekelompok peneliti dari Departemen Teknik Geologi Universitas Diponegoro bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), penjelasan itu tidak lengkap.
Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
Sudah Berlangganan? Masuk Di Sini
- ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
- ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
- ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
- ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan
Kami menerima metode pembayaran
DANA
gopay
OVO
ShopeePay
QRIS
Dan lainnya












Leave a Reply
View Comments