- Bencana pesisir bukan hanya merusak lingkungan, tetapi juga meningkatkan tekanan mental warga.
- Perempuan dan kelompok dengan akses layanan kesehatan terbatas menjadi lebih rentan mengalami tekanan mental.
- Adaptasi perubahan iklim perlu memasukkan kesehatan mental sebagai bagian penting dari penanggulangan bencana.
Selama ini, ketika orang membicarakan dampak perubahan iklim di wilayah pesisir, yang paling sering muncul di kepala adalah gambaran fisik: rumah yang tergenang air pasang, garis pantai yang terus mundur dimakan abrasi, atau badai yang meluluhlantakkan perahu nelayan. Yang jarang dibicarakan adalah apa yang terjadi di kepala orang-orang yang tinggal di sana — kecemasan yang menumpuk, tidur yang terganggu, dan rasa lelah yang tak kunjung hilang meski bencana besar belum tentu datang hari itu.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal The Journal of Climate Change and Health pertengahan 2026 mencoba mengisi kekosongan itu. Tim peneliti dari Universitas Indonesia, Universitas Ciputra Surabaya, Universitas Brawijaya, dan University of Manchester, yang dipimpin Mashita Fajri dan Asri Maharani, menelusuri data dari 642.419 orang dewasa Indonesia yang menjadi responden Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 — survei kesehatan nasional terbesar yang mencakup seluruh 34 provinsi dan 514 kabupaten/kota di Indonesia.
Sudah Berlangganan? Masuk Di Sini
- ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
- ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
- ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
- ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan
Kami menerima metode pembayaran













Leave a Reply
View Comments