B+Rahasia Pertanian Berkelanjutan yang Mengubah Nasib Petani

Pertanian berkelanjutan meningkatkan panen, pendapatan, dan ketahanan pangan.

ilustrasi petani yang sedang memenuhi pangan mereka. Gambar oleh Sasin Tipchai dari Pixabay
ilustrasi petani yang sedang memenuhi pangan mereka. Gambar oleh Sasin Tipchai dari Pixabay
  • Pertanian berkelanjutan terbukti meningkatkan produktivitas panen hingga 40,6% sekaligus menurunkan biaya produksi sebesar 30,7%, sehingga lebih menguntungkan bagi petani.
  • Penerapan pupuk organik, diversifikasi tanaman, dan pengelolaan lahan yang lebih baik meningkatkan pendapatan petani serta memperkuat ketahanan pangan di perdesaan.
  • Agar manfaatnya dirasakan lebih luas, pertanian berkelanjutan perlu didukung melalui kebijakan pemerintah, penyuluhan, dan akses pasar yang lebih baik bagi petani.

Bayangkan seorang petani yang selama bertahun-tahun hanya menanam dua jenis tanaman dalam satu musim, terus membeli pupuk kimia yang harganya naik setiap tahun, lalu suatu hari beralih ke cara bertani yang sama sekali berbeda. Hasil panennya justru naik lebih dari 40 persen. Ongkos produksinya turun sepertiga. Pendapatannya melonjak hampir separuh. Dan alih-alih dua jenis tanaman, kini ia menanam lima jenis sekaligus di lahan yang sama.

Ini bukan janji manis dari selebaran pupuk organik di pinggir jalan desa. Ini adalah temuan nyata dari penelitian yang dilakukan Doddy Ismunandar Bahari bersama empat rekannya dari lima kampus berbeda—Universitas Sembilanbelas November Kolaka, Universitas Medan Area, Universitas Patompo, Akademi Informatika dan Komputer Medicom, serta Politeknik Negeri Jember.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Saat Pangan Leluhur NTB Menjadi Jawaban Krisis Gizi
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.