B+Rahasia yang Tersembunyi dalam Darah Penyu

DNA menunjukkan bahwa penyu sisik di Laut Jawa terbagi dalam lima populasi genetik yang perlu dilindungi.

Penyu. (Sumber Foto: Pixabay.com)
Penyu. (Sumber Foto: Pixabay.com)
  • DNA mengungkap bahwa penyu sisik di Laut Jawa terbagi menjadi setidaknya lima kelompok genetik yang berbeda, meskipun hidup di wilayah laut yang sama.
  • Kesetiaan penyu pada pantai kelahirannya menciptakan batas genetik yang tak terlihat, bahkan jarak sekitar 75 kilometer sudah cukup untuk memisahkan dua populasi.
  • Temuan ini memperkuat pentingnya konservasi berbasis lokasi, karena hilangnya satu populasi berarti hilangnya keunikan genetik yang tidak dapat begitu saja digantikan oleh populasi lain.

Setiap kali seekor penyu sisik betina merayap ke pantai untuk bertelur, ia sesungguhnya sedang menulis ulang sebuah cerita yang sudah berlangsung ribuan tahun—cerita tentang tempat ia dilahirkan, dan tempat yang akan selalu ia kembali. Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dikenal punya memori yang luar biasa kuat terhadap pantai kelahirannya. Meski mereka bisa berenang lebih dari 1.600 kilometer mencari makan di lautan lepas, saat musim bertelur tiba, mereka nyaris selalu pulang ke tempat yang sama tempat mereka pertama menetas.

Sifat “pulang kampung” inilah yang selama ini menjadi misteri sekaligus kunci penting bagi upaya penyelamatan spesies yang kini berstatus kritis terancam punah ini. Dan sebuah penelitian yang terbit di jurnal Frontiers in Marine Science pada April 2024 baru saja mengungkap sesuatu yang mengejutkan: di kawasan yang tampak seperti satu wilayah laut yang sama—Laut Jawa—penyu-penyu ini sebenarnya terbagi ke dalam kelompok-kelompok genetik yang jauh lebih terisolasi daripada yang pernah dibayangkan siapa pun.

Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.