B+Dampak Ekologis Tambang Galian C di Pesisir Bone Bolango

Bukitnya Dikeruk, Sungainya Mendangkal, Desanya Kebanjiran

Ilustrasi aktivitas tambang galian C. Sumber foto: AI
Ilustrasi aktivitas tambang galian C. Sumber foto: AI
  • Tambang galian C di kawasan hulu mengubah bentang alam, mengurangi vegetasi dan kemampuan tanah menyerap air sehingga meningkatkan aliran permukaan serta erosi.
  • Dampaknya merambat dari hulu ke hilir: sedimentasi membuat sungai dangkal, memicu banjir, dan turut mengganggu ekosistem pesisir serta mata pencaharian warga.
  • Solusi tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik, tetapi membutuhkan pengawasan tambang, perlindungan kawasan hulu, serta pelibatan warga dalam pengelolaan dan pengurangan risiko bencana.

Pada peta citra satelit yang digunakan untuk membuka laporan ini, perbedaannya terlihat jelas dan mengusik: kawasan yang dahulu dipenuhi vegetasi hijau lebat di perbukitan hulu Desa Huangobotu, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, kini berubah menjadi hamparan lahan terbuka yang gundul—jejak aktivitas tambang galian C.

Istilah ini merujuk pada kegiatan penambangan bahan galian seperti pasir, batu, dan tanah urug yang umumnya digunakan sebagai material dasar pembangunan infrastruktur.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
  • ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS ♦ Dan lainnya
Baca juga:  Nikel Menggemukkan Negara, Tapi Daerah dapat Receh
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.