- Pertanian menjadi penyebab utama kerusakan gambut di Indonesia, Peru, dan Kongo, dengan pola pelaku yang berbeda di tiap wilayah.
- Kebakaran menyumbang sekitar separuh emisi gas rumah kaca dari kerusakan gambut, sehingga pencegahan pembakaran menjadi langkah penting.
- Dampak kerusakan gambut berlangsung jangka panjang, karena emisi tetap dilepaskan melalui proses dekomposisi selama bertahun-tahun setelah lahan dibuka.
Dari langit, satelit tidak peduli bahasa apa yang dipakai penduduk di bawahnya. Ia hanya merekam: hari ini hijau, besok cokelat gundul, lusa ada asap. Dengan cara merekam yang sama persis, sekelompok peneliti dari Universitas Wageningen, Belanda, bersama rekan-rekan dari Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (CIFOR), menjalankan eksperimen yang belum pernah dilakukan sebelumnya.
Mereka membandingkan apa yang sesungguhnya merusak hutan gambut di tiga benua sekaligus—Indonesia, Peru, dan Republik Demokratik Kongo—menggunakan kacamata yang sama persis, dan mengukur berapa ton gas rumah kaca yang dilepaskan setiap kali gambut itu diganggu.
Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
Sudah Berlangganan? Masuk Di Sini
- ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
- ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
- ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
- ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan
Kami menerima metode pembayaran
DANA
gopay
OVO
ShopeePay
QRIS
Dan lainnya












