- Pelestarian ekosistem pesisir membutuhkan aksi nyata, seperti penanaman mangrove, perawatan lingkungan, dan pemantauan berkelanjutan untuk menghadapi ancaman abrasi.
- Edukasi dan pengelolaan sampah plastik perlu ditanamkan sejak dini melalui kegiatan kreatif dan praktik daur ulang agar kepedulian lingkungan menjadi kebiasaan masyarakat.
- Kolaborasi mahasiswa dan masyarakat menjadi kunci keberlanjutan program lingkungan. Keberhasilan tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi juga dari manfaat dan perubahan positif yang terus dirasakan masyarakat.
Ancaman abrasi, kerusakan ekosistem mangrove, dan persoalan sampah plastik menjadi tantangan yang dihadapi masyarakat pesisir. Persoalan itu tak cukup diselesaikan dengan membersihkan pantai atau menanam pohon bakau. Diperlukan upaya berkelanjutan yang melibatkan masyarakat dalam menjaga ekosistem sekaligus mengelola limbah.
Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Indonesia menggelar TRIPSIR 2026 di Pantai Muara Bungin, Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, pada 24–25 Oktober 2026. Melalui program pengabdian masyarakat ini, mahasiswa menggabungkan edukasi, aksi konservasi, pengelolaan sampah, dan pemberdayaan warga pesisir.
Pemilihan Muara Bungin bukan tanpa alasan. Kawasan pesisir Muara Gembong menghadapi ancaman abrasi yang terus menggerus daratan dan perubahan kondisi ekosistem mangrove. Kajian IPB University yang dipublikasikan pada 2026 mencatat, wilayah pesisir Muara Gembong kehilangan sekitar 2.463,3 hektare daratan akibat abrasi selama periode 1980–2023. Desa Pantai Bakti termasuk salah satu wilayah yang mengalami dampak signifikan.
Di sisi lain, Dinas Pariwisata Kabupaten Bekasi mencatat keberadaan kawasan konservasi bakau seluas sekitar 70 hektare di Pantai Muara Bungin. Keberadaan kawasan tersebut menunjukkan pentingnya perlindungan mangrove sebagai benteng alami pesisir.
Mangrove bukan sekadar tanaman penghias kawasan pantai. Vegetasi ini berperan meredam energi gelombang, menahan sedimen, serta menyediakan habitat bagi berbagai organisme. Keberadaannya juga berkaitan erat dengan keberlangsungan kehidupan masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada sumber daya pesisir.
Salah satu agenda utama TRIPSIR 2026 adalah Gerakan Tanam Bakau (GERTAKAU). Kegiatan ini berlangsung di kawasan tambak dan pesisir Pantai Bungin dengan melibatkan peserta dalam penanaman mangrove secara langsung.
Namun, penanaman bibit bukanlah akhir dari upaya rehabilitasi. Pemilihan lokasi yang tepat, perawatan, dan pemantauan pertumbuhan tanaman menjadi faktor penting untuk memastikan mangrove dapat bertahan dan memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang.
Project Officer TRIPSIR 2026, Rafa, mengingat GERTAKAU sebagai salah satu pengalaman paling berkesan selama kegiatan berlangsung.
“Bagi saya, momen paling berkesan adalah saat GERTAKAU. Walaupun kami menanam bakau di area berlumpur, cuacanya cerah sehingga kegiatan terasa menyenangkan. Seru sekali bisa menanam bakau bersama teman-teman,” ujarnya.
Selain konservasi mangrove, TRIPSIR 2026 juga menyoroti persoalan sampah plastik melalui dua kegiatan edukatif, yakni BERDAYA (Berkreasi dan Daur Ulang Jadi Karya) dan TAPAK (Transformasi Plastik Menjadi Karya).
Melalui workshop BERDAYA, anak-anak diajak mengenal pengolahan sampah plastik menjadi berbagai karya kreatif. Sementara itu, workshop TAPAK memperkenalkan pemanfaatan limbah plastik sebagai bahan pembuatan paving block.
Kedua kegiatan tersebut memperkenalkan pendekatan bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan membuangnya ke tempat penampungan. Pengurangan sampah dari sumbernya, pemilahan berdasarkan jenis material, penggunaan kembali, dan pengolahan yang tepat merupakan bagian penting dari pengelolaan limbah.
Pemanfaatan plastik menjadi produk baru juga dapat menjadi alternatif pengolahan sampah. Meski demikian, prosesnya membutuhkan pemilahan bahan, prosedur pengolahan yang sesuai, serta perhatian terhadap kualitas dan keamanan produk. Sebab, tidak semua jenis plastik dapat diolah dengan metode yang sama.
Melalui kegiatan tersebut, edukasi lingkungan diperkenalkan dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Anak-anak belajar membangun kepedulian terhadap lingkungan melalui aktivitas kreatif. Adapun demonstrasi pembuatan paving block memberikan gambaran bahwa sampah dapat dikelola menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Bagi mahasiswa, pendekatan edukatif semacam ini menjadi penting karena kesadaran lingkungan tidak cukup dibangun melalui penyampaian informasi. Pengetahuan perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan, didukung fasilitas yang memadai, dan dijalankan secara konsisten bersama masyarakat.
Karena itu, TRIPSIR 2026 juga menghadirkan SAMAWA (Sapa-Sapa Mahasiswa dan Warga), kegiatan pembersihan lingkungan melalui cost clean-up dan beach clean-up , serta senam pagi bersama warga.
Rangkaian kegiatan tersebut membuka ruang interaksi antara mahasiswa dan masyarakat. Kolaborasi ini sekaligus mempertegas bahwa pelestarian lingkungan bukan hanya tanggung jawab individu atau kelompok tertentu, melainkan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
Bagi mahasiswa, Muara Bungin menjadi ruang belajar untuk memahami persoalan lingkungan secara langsung. Mereka dapat melihat bagaimana kondisi geografis, kebutuhan masyarakat, dan tantangan ekologis saling berkaitan dalam menentukan keberhasilan sebuah program pengabdian.
Sementara itu, masyarakat memperoleh kesempatan mengenal alternatif pengelolaan sampah serta memahami pentingnya menjaga ekosistem pesisir.
Apresiasi terhadap kegiatan tersebut disampaikan Deddy Widianto, warga Kampung Bungin. Ia menilai program TRIPSIR telah memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama melalui penyediaan penerangan jalan dan kegiatan konservasi mangrove.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan teman-teman TRIPSIR selama empat tahun di Pantai Muara Bungin. Program-program yang dibawa sangat membantu masyarakat sekitar, terutama penerangan jalan yang dibutuhkan banyak warga. Dari sisi konservasi, alhamdulillah sekitar 50–60 persen mangrove yang ditanam masih hidup sampai saat ini. Saya berharap teman-teman TRIPSIR 2026 tetap semangat membangun desa-desa tertinggal, khususnya desa-desa pesisir,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan program lingkungan tidak semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan yang terlaksana. Manfaat yang dirasakan warga dan keberlanjutan hasil program setelah kegiatan berakhir juga menjadi ukuran penting.
Rafa pun berharap berbagai fasilitas yang telah diberikan kepada masyarakat dapat terus dimanfaatkan dan dirawat.
“Harapan saya, program dan fasilitas yang telah kami tinggalkan di desa, seperti tempat sampah, paving block, dan lampu-lampu, dapat terus digunakan dan dirawat oleh masyarakat agar manfaatnya bertahan selama mungkin,” katanya.
Harapan tersebut menjadi pengingat bahwa kegiatan pengabdian masyarakat seharusnya tidak berhenti ketika mahasiswa meninggalkan lokasi. Penanaman mangrove membutuhkan pemantauan, fasilitas lingkungan memerlukan perawatan, dan edukasi pengelolaan sampah perlu diteruskan menjadi kebiasaan.
Main Event TRIPSIR 2026 menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana: menjaga kebersihan pantai, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, memahami fungsi mangrove, hingga melibatkan masyarakat dalam kegiatan konservasi.
Namun, tantangan sesungguhnya justru terletak pada keberlanjutan. Perubahan perilaku, pemeliharaan hasil konservasi, dan konsistensi keterlibatan masyarakat menjadi pekerjaan yang harus terus dilakukan setelah sebuah program selesai.
Melalui TRIPSIR 2026, mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Indonesia berupaya mempertemukan dua agenda yang saling berkaitan: pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Sebab, pesisir yang lestari tidak hanya membutuhkan ekosistem yang terjaga, tetapi juga masyarakat yang memiliki pengetahuan, kepedulian, dan kemampuan untuk merawatnya.
TRIPSIR 2026 merupakan program pengabdian masyarakat mahasiswa Universitas Indonesia yang mengintegrasikan edukasi, aksi lingkungan, dan kolaborasi bersama masyarakat pesisir.












