B+Saat Pangan Leluhur NTB Menjadi Jawaban Krisis Gizi

Pangan lokal NTB menjadi solusi gizi dan ketahanan pangan untuk melawan stunting.

Pegiat sorgum asal Kabupaten Flores Timur, NTT, Maria Loretha menunjukkan sorgum di lahannya di Desa Kawalelo. Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia
Pegiat sorgum asal Kabupaten Flores Timur, NTT, Maria Loretha menunjukkan sorgum di lahannya di Desa Kawalelo. Foto: Ebed de Rosary/Mongabay Indonesia
  • Pangan lokal NTB memiliki potensi besar sebagai sumber gizi alternatif untuk memperkuat ketahanan pangan dan mengatasi stunting.
  • Inovasi pengolahan bahan lokal membuktikan bahwa pangan tradisional dapat menjadi produk bergizi dan bernilai tinggi.
  • Pengembangan pangan lokal membutuhkan dukungan teknologi, edukasi, dan kebijakan agar dapat dimanfaatkan secara luas.

Di sebuah dapur sederhana di Sumbawa Barat, seorang ibu kader kesehatan mengaduk adonan yang terlihat biasa: jagung, ubi jalar, kacang komak, sedikit ikan tongkol, dan daun kelor yang baru dipetik dari pekarangan.

Bahan-bahan itu bukan sesuatu yang baru bagi masyarakat setempat—selama puluhan tahun mereka tumbuh subur di tanah kering Nusa Tenggara Barat, sering dianggap sebagai “makanan orang susah” ketimbang beras putih yang kini mendominasi meja makan.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Padi Lokal Hilang, Ritual Punah
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.