B+Di Balik Menyusutnya Perdagangan Burung Dilindungi di Kalimantan Barat

Penegakan hukum yang konsisten dan kampanye kesadaran kepada pedagang ternyata benar-benar bisa menekan perdagangan burung dilindungi.

Burung-burung dilindungi sitaaan. Ada 40 burung, empat mati, satu sakit dan 35 lepas liar ke habitatnya. Foto: BKSDA
Burung-burung dilindungi sitaaan. Ada 40 burung, empat mati, satu sakit dan 35 lepas liar ke habitatnya. Foto: BKSDA
  • Penegakan hukum dan edukasi terbukti efektif dalam mengurangi perdagangan burung dilindungi di Kalimantan Barat.
  • Konsistensi penindakan dapat mengubah perilaku pedagang dan menekan perdagangan ilegal secara signifikan.
  • Upaya konservasi perlu diperluas dan berkelanjutan, terutama untuk mengatasi perdagangan burung melalui pasar daring.

Ada istilah yang belakangan sering dipakai para pegiat konservasi burung di Indonesia: silent forest, hutan yang membisu. Bukan karena pohonnya ditebang habis, melainkan karena penghuni bersayapnya sudah lama diangkut keluar, satu per satu, dijerat dengan lem getah atau jaring, lalu dijual di kios-kios pasar burung dari Jawa hingga Sumatra.

Burung-burung yang dulu meramaikan tajuk pohon kini lebih sering terdengar berkicau di dalam sangkar gantung di teras-teras rumah, dipelihara sebagai peliharaan atau disiapkan untuk lomba burung berkicau yang digemari jutaan orang Indonesia.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Kelelawar yang Dijual Terang-Terangan di Indonesia
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.