B+Kakap Merah di Ambang Krisis

Perikanan kakap dan kerapu di seluruh perairan Indonesia sedang merugi secara finansial

Ikan Kakap Merah. Sumber foto: newwavetaxidermy.com
Ikan Kakap Merah. Sumber foto: newwavetaxidermy.com
  • Stok kakap dan kerapu Indonesia terus tertekan, terutama kakap merah yang sudah ditangkap melebihi tingkat berkelanjutan.
  • Penangkapan berlebihan justru membuat perikanan merugi, sehingga pengurangan tekanan tangkap diperlukan untuk memulihkan stok dan keuntungan nelayan.
  • Pemerintah menghadapi pilihan sulit: membatasi tangkapan sekarang demi pemulihan laut, sambil memastikan nelayan tetap memiliki penghasilan selama masa transisi.

Di dermaga-dermaga kecil sepanjang pesisir Indonesia, dari Selat Makassar hingga Laut Arafura, cerita yang sama terus berulang setiap hari. Kapal-kapal nelayan berangkat sebelum fajar, memancing di kedalaman puluhan hingga ratusan meter, memburu ikan-ikan dasar laut yang bernilai tinggi: kakap, kerapu, dan kerabatnya. Sebagian hasil tangkapan dijual di pasar lokal, sebagian lagi menyeberang lautan menuju meja makan di Beijing, Kuala Lumpur, hingga Amerika Serikat.

Namun di balik hiruk-pikuk perdagangan itu, sebuah studi ilmiah terbaru yang terbit di jurnal Environmental and Sustainability Indicators memberi sinyal bahaya. Tim peneliti gabungan dari sejumlah lembaga—Arizona State University, Oxford University, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Environmental Defense Fund, The Nature Conservancy, hingga Ocean Conservancy—menganalisis kondisi 43 spesies kakap dan kerapu komersial yang tersebar di 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) di seluruh Indonesia. Hasilnya: perikanan ini, secara nasional, sedang berjalan di atas kerugian.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Asa Nelayan dan Masyarakat Pesisir Indonesia Pasca Pemilu 2024
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.