B+Pajak Karbon Eropa dan Dilema Industri Indonesia

Uni Eropa mulai memungut "pajak karbon" atas baja, aluminium, semen, dan pupuk yang diimpor dari negara berkembang.

Asap dari PLTU. Gambar oleh Steve Buissinne dari Pixabay
Asap dari PLTU. Gambar oleh Steve Buissinne dari Pixabay
  • CBAM Eropa menjadi tekanan baru bagi Indonesia, India, dan Vietnam, terutama terhadap daya saing ekspor baja, aluminium, semen, dan pupuk.
  • Kebijakan ini sekaligus mendorong negara berkembang mempercepat harga karbon dan dekarbonisasi, meski kesiapan sistem MRV dan industri masih terbatas.
  • Negara-negara terdampak menginginkan CBAM yang lebih adil, termasuk dukungan teknis, pembagian pendapatan karbon, dan keterlibatan lebih besar dalam penyusunan kebijakan.

Bayangkan Anda seorang eksportir baja di Indonesia. Barang Anda sudah dikirim ke Eropa selama bertahun-tahun, pelanggan Anda sudah mapan, harga sudah disepakati. Lalu tiba-tiba, mulai Oktober 2023, pembeli Anda di Eropa harus melaporkan berapa banyak karbon yang dilepaskan selama proses produksi baja itu — dan mulai 2026, mereka harus membeli semacam “sertifikat karbon” untuk menutup selisih antara harga karbon di Eropa dan harga karbon (jika ada) di negara Anda.

Kalau negara Anda belum punya sistem harga karbon yang memadai, biaya itu ditanggung penuh oleh pembeli Anda di Eropa — dan pada akhirnya, kemungkinan besar, oleh Anda juga, lewat harga yang jadi kurang kompetitif.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Ketika Tanah Adat Ditentukan oleh Koneksi Kekuasaan
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.