Nikolas (Kiri), Yones (Tengh), dan Marten (Kanan). Lahan mereka diambil alih secara sepihak oleh GNJ. (Foto: Sarjan Lahay)
Nikolas (Kiri), Yones (Tengh), dan Marten (Kanan). Lahan mereka diambil alih secara sepihak oleh GNJ. (Foto: Sarjan Lahay)

B+Bisnis Hijau yang Menggusur Warga

Di balik bisnis hijau, konflik lahan dan kriminalisasi warga masih membayangi aktivitas GNJ di Gorontalo Utara

Di balik bisnis hijau, konflik lahan dan kriminalisasi warga masih membayangi aktivitas GNJ di Gorontalo Utara

  • Konflik tenurial di Gorontalo Utara berlarut karena klaim konsesi perusahaan berhadapan dengan lahan yang telah lama dikelola warga, sementara proses pembebasan dan pelibatan masyarakat dinilai tidak transparan.
  • Kriminalisasi terhadap warga memperdalam konflik, terutama setelah empat petani dipenjara meski akhirnya dinyatakan bebas. Peristiwa itu meninggalkan dampak ekonomi dan trauma bagi keluarga mereka.
  • Perubahan GNJ menuju Multi Usaha Kehutanan, Hutan Tanaman Energi, dan perdagangan karbon belum otomatis menyelesaikan persoalan lama. Di lapangan, masih terdapat tudingan soal konflik lahan, lemahnya penerapan FPIC, dan minimnya pemulihan hak masyarakat.

Marten Laita, masih mengingat betul kejadian yang dialaminya. Pagi itu pada pertengahan 2012, Marten berangkat ke pasar seperti biasa. Ia meninggalkan kebun delapan hektare yang diwariskan orang tuanya—lahan yang selama puluhan tahun ditanami nangka, pisang, durian, kakao, dan cengkeh. Kebun itu bukan sekadar aset, melainkan sandaran hidup bagi istri dan tiga anaknya.

Saat pulang, Marten tercekat melihat perubahan di lahannya. Pohon-pohon yang dirawatnya selama bertahun-tahun telah tumbang, tanah dipenuhi jejak alat berat, dan bibit pohon industri tertanam rapi di beberapa sudut. Amarahnya pun seketika memuncak.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Ketika Hari HAM Menjadi Ruang Melawan Ketidakadilan Struktural di Buol
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.