Hutan yang jadi wilayah konsesi GNJ di Gorontalo Utara yang telah dibuka. (Foto: Sarjan Lahay)
Hutan yang jadi wilayah konsesi GNJ di Gorontalo Utara yang telah dibuka. (Foto: Sarjan Lahay)

B+Paradoks Hutan Berkelanjutan di Gorontalo Utara

Di balik janji keberlanjutan dalam skema MUK, hutan dan warga Gorontalo Utara menanggung risiko

Di balik janji keberlanjutan dalam skema MUK, hutan dan warga Gorontalo Utara menanggung risiko

  • Di balik klaim kehutanan berkelanjutan, warga Gorontalo Utara mengaku menghadapi banjir, gagal panen, dan krisis air bersih.
  • Skema Multi Usaha Kehutanan dipromosikan melindungi hutan, tetapi temuan lapangan menunjukkan deforestasi masih terus terjadi.
  • Perdebatan tentang GNJ membuka pertanyaan besar: benarkah transisi hijau melindungi hutan, atau justru membungkus eksploitasi?

Rifal Bobihu tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Dari tepian desanya, ia menunjuk hamparan di wilayah utara yang kini dipenuhi tanaman jabon dan sengon milik PT Gema Nusantara Jaya (GNJ). Pohon-pohon itu berdiri seragam, menutup lanskap yang dulu merupakan hutan alam yang ruang hidup warga Desa Bubode, Kecamatan Tomilito, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo.

Menurut Rifal, kehadiran perusahaan tersebut bukan tanpa persoalan. GNJ—yang semula beroperasi sebagai perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan kini bertransformasi menjadi perusahaan Multi Usaha Kehutanan (MUK)—diduga membawa dampak ekologis. Warga mengeluhkan perubahan lingkungan yang berujung pada menurunnya hasil panen.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Jutaan Hektar Kebun Tebu di Papua akan Menggerus Masyarakat Adat?
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.