B+Banjir di Tanah yang Berubah Wajah

Ketika hutan berganti sawit, ladang, dan rumah, sungai-sungai Indonesia kehilangan cara lamanya mengalir

Rumah warga terdampak banjir di Pahuwato. Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia
Rumah warga terdampak banjir di Pahuwato. Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia
  • Perubahan hutan menjadi sawit, ladang, dan permukiman mengubah siklus air, meningkatkan limpasan, erosi, sedimentasi, serta risiko banjir dan kekeringan.
  • Banjir Indonesia bukan semata akibat hujan ekstrem, tetapi diperparah oleh perubahan tata guna lahan dan berkurangnya kemampuan tanah menyerap serta menyimpan air.
  • Solusi membutuhkan lebih dari sekadar infrastruktur, yaitu perlindungan hutan, agroforestri, tata ruang yang konsisten, pengelolaan DAS terpadu, dan tata kelola antarlembaga yang kuat.

Masamba, Juli 2020. Hujan turun deras, antara 200 hingga 300 milimeter, dalam waktu yang sangat singkat. Tiga sungai—Masamba, Rongkong, dan Rada—meluap hampir bersamaan. Dalam hitungan jam, kota kecil di Luwu Utara itu tenggelam dalam lumpur. Rumah warga, gedung publik, sawah, dan kebun terkubur sedimen yang dibawa air dari hulu.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana kemudian menyimpulkan dua faktor di balik bencana itu: alam, berupa curah hujan ekstrem, dan manusia—perubahan hutan di hulu Sungai Masamba menjadi ladang, sawah, dan area tambang.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Janji Iklim Indonesia Alami Kemunduran?
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.