B+Ketika Bencana Sumatra Ikut Menggoyang Dompet Orang Jawa

Bencana yang melanda tiga provinsi di Sumatra pada akhir 2025 menyusup ke rantai pasok, harga, dan upah di seluruh Indonesia.

Wapres Gibran Rakabuming saat melihat kondisi kerusakan kerusakan infrastruktur akibat bencana hidrometeorologi sekaligus menyapa warga di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, Kamis (4/12/25). Foto: BNPB
Wapres Gibran Rakabuming saat melihat kondisi kerusakan kerusakan infrastruktur akibat bencana hidrometeorologi sekaligus menyapa warga di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, Kamis (4/12/25). Foto: BNPB
  • Bencana di Sumatra dapat berdampak pada ekonomi seluruh Indonesia melalui rantai pasok.
  • Gangguan pada perkebunan dan infrastruktur memiliki efek ekonomi yang lebih luas.
  • Mitigasi bencana perlu memperkuat ketahanan ekonomi dan konektivitas antarwilayah.

Pada penghujung 2025, banjir bandang, tanah longsor, dan cuaca ekstrem menghantam Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat hampir bersamaan. Selain merenggut nyawa dan memaksa ribuan orang mengungsi, bencana ini juga meluluhlantakkan jalan, jembatan, lahan pertanian, dan kawasan perkebunan di sejumlah titik strategis pulau itu. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatatnya sebagai salah satu peristiwa hidrometeorologis terbesar yang pernah melanda Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Pertanyaan yang muncul kemudian bukan hanya seberapa besar kerusakan fisik yang terjadi, tapi juga: ke mana dampaknya akan merambat? Apakah kerugian ekonomi akan berhenti di batas provinsi yang porak-poranda, atau justru menjalar ke Jakarta, Surabaya, bahkan Papua—wilayah yang secara fisik sama sekali tak tersentuh bencana?

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
  • ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS ♦ Dan lainnya
Baca juga:  Di Balik Menyusutnya Perdagangan Burung Dilindungi di Kalimantan Barat
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.