B+Mengapa Satelit “Buta” Melihat Tambang Rakyat di Gunung Pani?

Peta resmi kehutanan Indonesia sama sekali tidak menunjukkan adanya tambang di hutan Gunung Pani, Gorontalo—padahal ribuan penambang rakyat sudah bekerja di sana

Area Proyek Emas Pani di Pohuwato, Gorontalo.. (Foto: PETS)
Area Proyek Emas Pani di Pohuwato, Gorontalo.. (Foto: PETS)
  • Satelit tidak sepenuhnya gagal, tetapi resolusinya terlalu kasar untuk mendeteksi tambang rakyat yang kecil dan tersembunyi di medan hutan Gunung Pani.
  • Pan-sharpening membuat tambang lebih mudah terlihat, tetapi setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan; metode terbaik bergantung pada tujuan analisis.
  • Teknologi pemantauan sudah tersedia dan relatif murah, tetapi kemampuan melihat aktivitas tambang dari angkasa belum otomatis menyelesaikan persoalan konflik dan tata kelola di lapangan.

Hutan Gunung Pani di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, adalah hutan hujan tropis yang tumbuh di perbukitan terjal—dan di bawah lapisan tanahnya tersimpan sesuatu yang sudah menarik penambang selama puluhan tahun: emas.

Aktivitas tambang emas rakyat di kawasan ini sudah dilaporkan berlangsung sejak lama, tapi ada satu masalah mendasar yang menghambat pemerintah untuk benar-benar memahami skalanya: informasi spasialnya nyaris tidak ada.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Membaca Arah Ekspansi Kebun Sawit di Jambi
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.