B+Nikel Menggemukkan Negara, Tapi Daerah dapat Receh

Hilirisasi nikel menghasilkan triliunan rupiah, tetapi daerah penghasil belum menikmati manfaat yang sepadan.

Penampakan Kawasan Industri Nikel, PT IMIP, Foto: Milik PT IMIP
Penampakan Kawasan Industri Nikel, PT IMIP, Foto: Milik PT IMIP
  • Hilirisasi nikel menghasilkan nilai ekonomi besar, tetapi manfaatnya belum terbagi adil kepada daerah penghasil.
  • Formula DBH yang masih berfokus pada hasil tambang mentah membuat daerah kehilangan bagian dari nilai tambah smelter.
  • Reformasi DBH, transparansi, dan Dana Abadi Daerah diperlukan agar kekayaan nikel memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat lokal.

Di depan Komisi II DPR RI, akhir April 2025, Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menyampaikan keluhan yang terdengar ganjil. Provinsinya adalah salah satu penghasil nikel terbesar di Indonesia. Presiden bahkan pernah menyebut industri smelter di sana menyumbang hingga Rp570 triliun bagi perekonomian nasional.

Tapi dari angka sebesar itu, Sulawesi Tengah hanya kebagian Dana Bagi Hasil (DBH) pertambangan mineral dan batu bara sekitar Rp200 miliar per tahun—kurang dari setengah persen.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Perbudakan Modern dalam Bayang-Bayang Hilirisasi Nikel di KIBA
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.