- Sebanyak 71,45% deforestasi di dalam portofolio konsesi yang diteliti tidak masuk klasifikasi resmi sebagai deforestasi terkait pulp.
- Jejak emisi Sinar Mas dan APRIL berbeda jauh dalam studi ini, dengan intensitas emisi Sinar Mas tercatat lebih tinggi per ton pulp yang diekspor.
- Pelacakan rantai pasok dan pemantauan spasial perlu diperkuat agar risiko deforestasi dan emisi di industri pulp dapat teridentifikasi secara lebih menyeluruh.
Industri pulp dan kertas Indonesia adalah salah satu andalan ekspor komoditas berisiko hutan (forest-risk commodity) yang paling strategis di pasar global. Tapi di balik angka ekspor yang terus tumbuh—dari 6,79 juta ton pada 2015 menjadi 9,90 juta ton pada 2022—ada pertanyaan yang jarang dijawab secara tuntas: seberapa besar sesungguhnya jejak lingkungan yang tersembunyi di balik pertumbuhan itu, dan siapa yang paling bertanggung jawab menanggungnya?
Pertanyaan inilah yang coba dijawab Maulida Boru Butar Butar bersama tim dari Universitas Gunadarma dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Environmental and Sustainability Indicators. Alih-alih hanya melihat data ekspor atau data deforestasi secara terpisah—cara yang lazim dipakai kebanyakan penilaian sebelumnya—penelitian ini menyatukan keduanya lewat data rantai pasok spasial dari platform Trase (SEI-PCS), lalu melacaknya hingga ke tingkat kelompok usaha (corporate group) untuk periode 2015 hingga 2022.
Sudah Berlangganan? Masuk Di Sini
- ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
- ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
- ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
- ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan
Kami menerima metode pembayaran













Leave a Reply
View Comments