B+Konsekuensi Hidrologis dari Perubahan Penggunaan Hutan di Indonesia

Sebuah tinjauan atas belasan DAS di seluruh Indonesia menemukan tiga jalur alih fungsi lahan yang paling sering memicu banjir dan kekeringan.

Rumah warga terdampak banjir di Pahuwato. Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia
Rumah warga terdampak banjir di Pahuwato. Foto: Sarjan Lahay/Mongabay Indonesia
  • Alih fungsi lahan menjadi salah satu penyebab meningkatnya banjir dan kekeringan karena mengganggu kemampuan tanah menyerap air.
  • Perubahan hutan dan lahan pertanian menjadi perkebunan, pertanian, dan permukiman memberikan dampak berbeda terhadap kondisi hidrologi.
  • Mitigasi bencana perlu disesuaikan dengan kondisi setiap wilayah, melalui perlindungan hutan, agroforestri, dan pengelolaan air yang tepat.

Setiap musim hujan tiba, ritual yang sama berulang di berbagai penjuru Indonesia: sungai meluap, jalan berubah jadi sungai dadakan, dan berita banjir memenuhi layar televisi. Lalu ketika musim kemarau datang, cerita berbalik arah — sumur mengering, sungai menyusut, dan petani harus berjuang mendapatkan air untuk ladangnya.

Dua wajah bencana yang tampak berlawanan ini, menurut sekelompok peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Tropenbos Indonesia, sesungguhnya punya akar yang sama: perubahan besar-besaran pada cara lahan di Indonesia digunakan.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
  • ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS ♦ Dan lainnya
Baca juga:  Tata Kelola Buruk, Upaya Perlindungan Hutan di Pulau Kecil Masih Minim
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.