B+Rahasia di Balik Hutan Sancang

Hutan Sancang memiliki keanekaragaman tumbuhan yang tinggi dengan komposisi berbeda di setiap lokasi.

CA Leuweung Sancang, Hutan Mangrove. Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia
CA Leuweung Sancang, Hutan Mangrove. Foto: Donny Iqbal/Mongabay Indonesia
  • Hutan Sancang memiliki keanekaragaman tumbuhan yang tinggi, dengan 174 spesies yang tersebar secara berbeda di berbagai lokasi.
  • Setiap bagian hutan memiliki komposisi tumbuhan yang khas, sehingga perbedaan spesies tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, tetapi juga faktor ekologis lainnya.
  • Konservasi Sancang perlu dilakukan secara menyeluruh, dengan menjaga berbagai habitat dan lokasi agar seluruh keanekaragaman tumbuhan tetap terlindungi.

Bayangkan berjalan menyusuri hutan di sepanjang pesisir selatan Kabupaten Garut, Jawa Barat—kawasan yang dikenal sebagai Cagar Alam Leuweung Sancang. Di satu titik, Anda akan menemukan pepohonan raksasa dari famili Dipterocarpaceae, kelompok pohon yang jadi penanda khas hutan tropis dataran rendah yang masih “perawan”—jarang terganggu, berdiri kokoh sejak entah berapa generasi lalu.

Berjalan beberapa ratus meter saja ke lokasi lain, susunan tumbuhannya bisa terasa sangat berbeda: spesies dominan berganti, jenis yang tadi melimpah kini nyaris tak terlihat, digantikan oleh spesies lain yang justru jarang muncul di titik sebelumnya.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
  • ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS ♦ Dan lainnya
Baca juga:  Bank-Bank Besar di Indonesia Mendanai Kerusakan Hutan
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.