B+Urbanisasi Meluas, Ruang Hidup Satwa Indonesia Menyempit

Ekspansi perkotaan di Indonesia selama 1992–2020 semakin menekan habitat satwa liar, sementara kawasan yang dilindungi belum terbukti lebih aman.

Sikatan cacing jawa (Cyornis banyumas) (Foto: Burung Indonesia)
Sikatan cacing jawa (Cyornis banyumas) (Foto: Burung Indonesia)
  • Ekspansi perkotaan Indonesia meningkat pesat, dengan luas lahan perkotaan naik lebih dari 75 persen sepanjang 1992–2020.
  • Perluasan kota semakin menekan habitat satwa, terutama mamalia, burung, reptil, dan amfibi di berbagai wilayah Indonesia.
  • Kawasan yang dilindungi belum sepenuhnya mampu menahan tekanan urbanisasi, sehingga diperlukan tata kota yang lebih memperhatikan konservasi keanekaragaman hayati.

Burung trulek jawa (Vanellus macropterus) dulu bisa ditemukan berkeliaran di lahan basah dan padang rumput terbuka Pulau Jawa. Kini, nama burung endemik itu disematkan status “sangat terancam punah” sekaligus “kemungkinan telah punah” oleh BirdLife International, karena tak ada satu pun penampakannya yang tercatat dalam beberapa dekade terakhir.

Nasib trulek jawa menjadi simbol yang pas untuk sebuah penelitian baru yang mencoba menjawab pertanyaan besar: seberapa jauh ekspansi kota-kota Indonesia telah menggerus ruang hidup satwa liar, dan apakah kawasan yang secara resmi dilindungi benar-benar lebih aman dibanding yang tidak?

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
  • ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS ♦ Dan lainnya
Baca juga:  Enam Pemimpin Muda Indonesia Berjuang untuk Keanekaragaman Hayati Dunia di Kolombia
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.