B+Dunia Mulai Serius Meneliti Tanah Indonesia

Riset tanah Indonesia berkembang pesat dan semakin banyak berkolaborasi secara internasional

Vincent Kwipalo (kanan) dalam aksi protes masyarakat adat marga Kwipalo terhadap ekspansi perusahaan perkebunan tebu PT MNM di tanah adatnya, Merauke, Papua. Dok. Istimewa
Vincent Kwipalo (kanan) dalam aksi protes masyarakat adat marga Kwipalo terhadap ekspansi perusahaan perkebunan tebu PT MNM di tanah adatnya, Merauke, Papua. Dok. Istimewa
  • Riset tanah Indonesia meningkat pesat, dari 45 artikel pada 2000 menjadi 510 artikel pada 2024.
  • Kolaborasi internasional semakin kuat, dengan Jepang menjadi salah satu mitra riset utama Indonesia.
  • Riset masih belum merata, terutama di wilayah Indonesia timur dan dalam pelibatan peneliti lokal secara setara.

Pada tahun 2000, hanya ada 45 artikel ilmiah terindeks internasional yang membahas tanah Indonesia. Dua puluh empat tahun kemudian, angka itu melonjak menjadi 510 artikel dalam setahun—pertumbuhan tahunan rata-rata 10,6 persen yang konsisten, tanpa jeda berarti.

Di balik angka-angka itu tersimpan cerita tentang bagaimana ilmu tanah, disiplin yang relatif muda dibanding ilmu alam lainnya, perlahan naik kelas dari sekadar catatan teknis pertanian kolonial menjadi medan kolaborasi sains global yang melibatkan ratusan peneliti dari puluhan negara.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
  • ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS ♦ Dan lainnya
Baca juga:  UU Pangan Direvisi: Jangan Akomodir Proyek Jangka Pendek
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.