B+Ketika Hutan Hanya Dilihat sebagai Tumpukan Karbon

Hutan Indonesia bukan hanya soal karbon, tetapi juga tentang masyarakat, keadilan, dan keberlanjutan.

Pohon Rau di Hutan Ranjuri (Photo: LTKL & Gampiri Interaksi)
Pohon Rau di Hutan Ranjuri (Photo: LTKL & Gampiri Interaksi)
  • Karbon menjadi fokus utama dalam kajian hutan dan perubahan iklim di Indonesia, terutama melalui isu deforestasi dan REDD+.
  • Cara pandang penelitian mulai berubah dengan semakin banyaknya perhatian terhadap keadilan, hak masyarakat adat, serta ketimpangan dalam pengelolaan hutan.
  • Penelitian ke depan perlu lebih seimbang, dengan memperhatikan karbon sekaligus kondisi masyarakat lokal, perhutanan sosial, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Pada 1993, setahun setelah Deklarasi Rio yang menandai lahirnya kesadaran global tentang perubahan iklim, seorang peneliti bernama Daniel Murdiyarso menulis sebuah artikel ilmiah yang, tanpa ia sadari sepenuhnya saat itu, akan menjadi cikal bakal sebuah cara pandang yang bertahan lebih dari tiga dekade.

Tulisannya menyoroti potensi besar hutan tropis Indonesia sebagai penyerap karbon. Sejak itu, setiap kali ilmu pengetahuan berbicara tentang hutan Indonesia dan perubahan iklim, karbon selalu menjadi kata kunci yang paling sering muncul.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Baca juga:  Mengapa Restorasi Gambut Indonesia Masih Tertatih-tatih?
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.