Bahagia yang Dipertontonkan

Di Era Media Sosial, Masihkah Kita Memahami Makna Bahagia yang Sesungguhnya?

Gambar oleh Helmut Strasil dari Pixabay
Gambar oleh Helmut Strasil dari Pixabay

“Jika kebahagiaan harus selalu diunggah, mungkinkah kita telah kehilangan kemampuan untuk benar-benar menikmatinya?”


Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana, tetapi terasa semakin relevan di tengah kehidupan yang nyaris tidak pernah lepas dari layar telepon genggam. Hari ini, seseorang dapat mengetahui apa yang dimakan orang lain, ke mana mereka berlibur, kendaraan apa yang baru dibeli, hingga bagaimana mereka merayakan ulang tahun. Semua tersaji dalam hitungan detik melalui media sosial. Kita mengetahui kehidupan banyak orang, tetapi belum tentu memahami kehidupan kita sendiri.

Media sosial memang telah mengubah cara manusia berkomunikasi. Ia mendekatkan mereka yang berjauhan, mempercepat arus informasi, membuka peluang ekonomi, dan menghadirkan ruang belajar tanpa batas. Namun, di balik semua manfaat itu, media sosial juga perlahan mengubah cara manusia memandang kebahagiaan. Bahagia tidak lagi cukup untuk dirasakan, tetapi seolah harus dipublikasikan. Ia dianggap lengkap ketika memperoleh tanda suka, komentar, dan pengakuan dari orang lain.

Di sinilah lahir sebuah fenomena yang semakin nyata: bahagia yang dipertontonkan.

Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna internet dan media sosial terbesar di dunia. Laporan Digital 2025 Indonesia yang diterbitkan DataReportal menunjukkan bahwa sekitar 212 juta penduduk Indonesia telah menggunakan internet, sementara terdapat sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial.

Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia menghabiskan waktu setiap hari di ruang digital yang dipenuhi berbagai narasi tentang kesuksesan, gaya hidup, pencapaian, hingga kebahagiaan. Dalam ruang seperti ini, membandingkan diri dengan orang lain menjadi sesuatu yang hampir tidak terhindarkan.

Setiap hari kita disuguhi potret kehidupan yang tampak begitu sempurna. Ada yang mengunggah liburan ke luar negeri, membeli kendaraan baru, menikmati makan malam di restoran mewah, merayakan ulang tahun dengan pesta meriah, atau memperlihatkan rutinitas yang terlihat begitu ideal.

Tidak ada yang salah dengan membagikan kebahagiaan. Yang menjadi persoalan adalah ketika media sosial hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan, sementara kegagalan, kesedihan, kecemasan, konflik keluarga, hingga perjuangan yang panjang disimpan rapat-rapat.

Tanpa disadari, ruang digital telah menjadi panggung besar tempat setiap orang berlomba menampilkan versi terbaik dirinya. Bukan lagi tentang siapa yang paling bahagia, tetapi siapa yang paling berhasil terlihat bahagia.

Baca juga:  Menafsir G30S PKI dalam Perspektif Demokrasi Substantif

Ironisnya, manusia sering membandingkan kehidupan nyata yang penuh persoalan dengan kehidupan orang lain yang telah melalui proses penyuntingan. Kita membandingkan rutinitas sehari-hari dengan momen liburan orang lain. Kita membandingkan perjalanan hidup yang panjang dengan satu unggahan yang dipilih secara cermat. Perbandingan seperti itu tentu tidak pernah adil.

Dari sinilah rasa tidak pernah cukup mulai tumbuh.

Rumah yang dahulu terasa nyaman tiba-tiba dianggap biasa karena melihat rumah orang lain yang lebih besar. Pekerjaan yang sebelumnya disyukuri mendadak terasa kurang bergengsi. Liburan sederhana kehilangan makna hanya karena tidak seindah unggahan yang sedang viral. Bahkan, secangkir kopi yang dulu dinikmati dengan penuh syukur kini terasa kurang menarik jika tidak disajikan di tempat yang “instagramable”.

Fenomena tersebut berkaitan erat dengan apa yang dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO), yaitu kecemasan karena merasa tertinggal dari pengalaman orang lain. Dalam budaya digital, FOMO membuat seseorang merasa harus selalu mengikuti tren, mengunjungi tempat yang sedang populer, membeli barang yang sedang ramai dibicarakan, atau menjalani gaya hidup tertentu agar tidak dianggap tertinggal.

Sayangnya, mengejar pengakuan semacam itu tidak selalu menghadirkan ketenangan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui laporan Commission on Social Connection tahun 2025 mengungkapkan bahwa sekitar satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian. Yang menarik, kondisi ini justru terjadi ketika teknologi komunikasi berkembang begitu pesat.

WHO juga menegaskan bahwa remaja dan dewasa muda merupakan kelompok yang paling rentan, sementara penggunaan media digital yang berlebihan dan interaksi daring yang negatif dapat memperburuk kesehatan mental. Fakta ini mengingatkan kita bahwa semakin mudah seseorang terhubung melalui internet, belum tentu semakin kuat pula hubungan sosial yang dimilikinya.

Di sinilah paradoks kehidupan modern semakin terlihat.

Kita memiliki ribuan teman di media sosial, tetapi semakin banyak orang yang merasa kesepian. Kita mengetahui aktivitas orang lain hampir setiap saat, tetapi semakin jarang benar-benar mengenal diri sendiri. Kita sibuk mencari validasi dari luar, sementara ketenangan di dalam diri justru semakin sulit ditemukan.

Baca juga:  Bumi Memanas, Manusia Menjauh

Lebih jauh lagi, budaya mempertontonkan kebahagiaan mulai memengaruhi cara masyarakat mengambil keputusan. Tidak sedikit orang yang memilih tempat makan berdasarkan apakah lokasinya menarik untuk difoto. Ada yang menentukan tujuan wisata karena sedang viral, bukan karena benar-benar ingin menikmati suasananya. Bahkan, tidak sedikit yang memanfaatkan fasilitas kredit atau paylater demi mengikuti gaya hidup yang sebenarnya berada di luar kemampuan finansialnya.

Dalam kondisi seperti ini, konsumsi perlahan berubah menjadi simbol identitas.

Kita membeli bukan lagi karena membutuhkan, tetapi karena ingin terlihat mampu. Kita bepergian bukan lagi karena ingin beristirahat, tetapi agar tidak tertinggal dari orang lain. Kita mengabadikan hampir setiap momen, tetapi semakin sedikit waktu untuk benar-benar menghayatinya.

Padahal, kebahagiaan yang sesungguhnya hampir selalu lahir dari hal-hal yang sederhana.

Ia hadir ketika seseorang menikmati makan malam bersama keluarga tanpa gangguan notifikasi. Ia tumbuh ketika seorang ayah memiliki waktu bermain dengan anaknya setelah pulang bekerja. Ia muncul ketika seseorang menikmati secangkir kopi tanpa merasa harus mengambil foto terlebih dahulu. Ia hidup ketika seseorang mampu mensyukuri apa yang dimiliki tanpa terus-menerus menghitung apa yang belum dimiliki.

Sayangnya, kesederhanaan tidak pernah menjadi konten yang mudah viral.

Media sosial lebih menyukai sesuatu yang mencolok daripada yang mendalam. Ia memberi ruang lebih besar bagi sensasi dibandingkan refleksi. Akibatnya, kita semakin sering melihat kehidupan, tetapi semakin jarang memahami makna kehidupan itu sendiri.

Barangkali persoalan terbesar masyarakat hari ini bukanlah semakin sedikitnya alasan untuk bahagia, melainkan semakin banyaknya standar yang harus dipenuhi agar dianggap bahagia. Kita hidup dalam peradaban yang memberi ruang sangat luas untuk saling melihat, tetapi semakin sempit untuk benar-benar saling memahami.

Kebahagiaan bergeser dari pengalaman batin menjadi penampilan sosial. Yang dicari bukan lagi ketenangan, melainkan pengakuan. Yang dikejar bukan lagi rasa cukup, melainkan citra bahwa kita memiliki lebih dari orang lain.

Padahal, sejarah kehidupan manusia menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak pernah ditentukan oleh banyaknya harta, tingginya jabatan, ataupun banyaknya pengikut di media sosial. Kebahagiaan tumbuh dari hubungan yang hangat, kesehatan yang terjaga, rasa syukur, serta kemampuan menerima diri apa adanya. Nilai-nilai seperti ini mungkin tidak menghasilkan ribuan tanda suka, tetapi justru menjadi fondasi kehidupan yang lebih damai.

Baca juga:  Ekofeminisme; Suara Perempuan dan Jeritan Alam

Media sosial bukanlah musuh. Ia hanyalah alat. Yang menentukan manfaat atau mudaratnya adalah cara kita menggunakannya. Ketika media sosial dijadikan ruang berbagi inspirasi, mempererat hubungan sosial, dan menyebarkan pengetahuan, ia menjadi kekuatan yang luar biasa. Namun, ketika ia dijadikan ukuran harga diri, sumber validasi, dan tolok ukur kebahagiaan, maka perlahan-lahan kita menyerahkan kendali hidup kepada algoritma.

WHO juga mengingatkan bahwa kesepian dan keterasingan sosial berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi, kecemasan, penyakit jantung, hingga penurunan produktivitas. Pesan yang ingin disampaikan sebenarnya sederhana: manusia tidak hanya membutuhkan koneksi internet yang cepat, tetapi juga hubungan antarmanusia yang hangat, tulus, dan bermakna.

Karena itu, mungkin sudah saatnya kita belajar menikmati hidup tanpa merasa berkewajiban menceritakan semuanya kepada dunia. Tidak semua matahari terbenam harus direkam. Tidak semua secangkir kopi harus difoto. Tidak semua perjalanan harus menjadi konten. Ada momen-momen yang justru menjadi lebih berharga ketika hanya dinikmati oleh diri sendiri dan orang-orang terdekat.

Pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting bukanlah, “Berapa banyak orang yang menyukai kehidupan kita di media sosial?” Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, “Ketika layar dimatikan, notifikasi berhenti berbunyi, dan tidak ada seorang pun yang melihat, apakah kita masih mampu mengatakan bahwa hidup ini membahagiakan?”

Jika jawabannya adalah “ya”, maka kita telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada ribuan tanda suka. Kita telah menemukan kebahagiaan yang tidak membutuhkan penonton, tidak bergantung pada algoritma, dan tidak menunggu pengakuan siapa pun. Sebab, kebahagiaan sejati bukanlah sesuatu yang dipertontonkan. Ia adalah sesuatu yang dirasakan, dijaga, dan disyukuri dalam diam.

 


Redaksi menerima artikel opini dengan panjang cerita minimal 700 kata, dan tidak sedang dikirim ke media lain. Sumber rujukan disebutkan lengkap pada tubuh tulisan. Kirim tulisan ke e-mail redaksibenua@gmail.com disertai dengan foto profil, nomor kontak, dan profil singkat

Alumnus Magister Ekonomi Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia juga aktif sebagai penulis lepas, dan memiliki ketertarikan pada isu lingkungan, Pendidikan dan Ekonomi.