Kebun sawit PT Pasangkayu. Foto: Sarjan Lahay/ Mongabay Indonesia
Kebun sawit PT Pasangkayu. Foto: Sarjan Lahay/ Mongabay Indonesia

B+Dugaan Pelanggaran di Perusahaan Sawit Astra Tenyata Lebih Besar

  • Perusahaan sawit, PT Astra Agro Lestari Tbk (AAL) rupanya masih terus terlilit persoalan tata kelola sawit dengan kebun ilegal di dalam kawasan hutan di Indonesia. Beberapa anak perusahaan masih terus beroperasi tanpa izin yang diperlukan. 
  • Laporan terbaru Friends of the Earth Amerika Serikat, Walhi, dan Milieudefensie berjudul “Memupuk Konflik: menyebutkan, konflik lahan berlarut-larut, kegagalan tata kelola, dan kurangnya pertanggungjawaban mewarnai operasi AAL di Indonesia.
  • Analisis data spasial dan pemetaan  Genesis Bengkulu yang menjadi dasar laporan itu menemukan, AAL memiliki 41 anak perusahaan dan 32 pabrik sawit (PKS) di area seluas 357.624 hektar yang tersebar di delapan provinsi. Angka itu jauh lebih besar dari angka yang situs PT AAL.
  • Uli Arta Siagian, Manajer Kampanye Hutan dan Perkebunan Walhi Nasional mengatakan, perampasan lahan, pelanggaran HAM, dan operasi ilegal PT AAL seharusnya menjadi peringatan. Pemerintah Indonesia, katanya,  harus memastikan pengembalian lahan kepada masyarakat dan petani yang diambil PT AAL tanpa persetujuan.

PT Astra Agro Lestari Tbk yang disingkat dengan AAL rupanya masih terus memupuk permasalahannya tata kelola sawit ilegal miliknya di dalam kawasan hutan Indonesia. Beberapa anak perusahaannya pun masih terus beroperasi tanpa izin yang diperlukan. Permasalah intimidasi dan kriminalisasi kepada para pembela hak asasi manusia di bidang lingkungan hidup juga masih terus.

Laporan terbaru Friends of the Earth Amerika Serikat, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), dan Milieudefensie menemukan, bagaimana konflik lahan yang berlarut-larut, kegagalan tata kelola, dan kurangnya pertanggungjawaban mewarnai operasi AAL di Indonesia. Bahkan, pelanggaran lingkungan dan tata kelola AAL tampaknya lebih luas daripada yang didokumentasikan sebelumnya.

Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.