- Perayaan Iduladha masih menghasilkan dampak lingkungan besar akibat penggunaan kantong plastik sekali pakai dan pengelolaan limbah organik yang belum optimal.
- Kebiasaan praktis dalam distribusi daging kurban, seperti penggunaan plastik hitam, berkontribusi pada risiko kesehatan sekaligus memperparah masalah sampah nasional.
- Diperlukan kesadaran kolektif dan kebijakan yang lebih tegas untuk mendorong kemasan ramah lingkungan serta pengelolaan limbah kurban yang berkelanjutan.
Apakah kamu menjadi salah satu panitia kurban Iduladha kemarin atau hanya sebatas menunggu momen sapi lepas dari posko penyembelihan hewan kurban? Satu hal yang kita tahu dengan pasti adalah sebelum daging-daging kurban dibagikan, biasanya akan ada beberapa orang yang secara sukarela membantu memotong daging, menimbangnya agar daging yang dibagikan sama rata, dan menaruhnya di besek atau kantong plastik.
Melihat fenomena warga yang berbondong-bondong dengan antusias untuk mendapatkan daging kurban begitu ramai. Perhatian intens justru datang karena banyak warga yang menggunakan kantong plastik untuk mewadahi daging kurban yang dibagikan. Ini menimbulkan pertanyaan, jika begitu banyak daging kurban yang dibagikan dalam satu RT, berapa jumlah lembar kantong plastik yang dikeluarkan?
Jika masih dalam lingkup RT sudah sebanyak ini, bagaimana jika jumlah lembaran-lembaran itu dikumpulkan dari seluruh masyarakat yang ikut mengambil daging kurban menggunakan kantong plastik di Indonesia? Belum lagi masalah tempat pembuangan limbah organik seperti jeroan daging kurban yang tidak dipersiapkan atau seringkali dibuang begitu saja di selokan selokan atau aliran sungai di dekat rumah warga.
Iduladha memang menjadi salah satu momen hari raya yang ditunggu, tidak hanya sebatas melaksanakan perintah-Nya, tapi juga sudah melekat pada kultur masyarakat Indonesia. Pasalnya, kultur itu terkadang membawa dampak yang juga sama besarnya dengan rasa bahagia kita saat mendapatkan daging kurban. Bagaimana tidak? Banyak orang yang membungkus daging kurban langsung dengan plastik hitam.
Padahal, kantong plastik hitam mengandung logam yang berbahaya apabila mengalami kontak langsung dan mengkontaminasi daging kurban yang masih segar. Penggunaan kantong plastik hitam untuk membungkus daging kurban memiliki bahaya sebab kantong plastik hitam adalah produk daur ulang yang mengandung zat kimia berbahaya seperti timbal dan karsinogen. Zat ini dapat ‘bermobilisasi’ dari kresek ke bagian lemak kemudian daging yang bisa memicu kanker, kerusakan ginjal, serta gangguan sistem saraf.
Mengapa Kantong Plastik Menjadi Pilihan dan Apa Dampaknya ke Bumi?
Kantong plastik memiliki harga yang relatif murah. Terlebih karena sifatnya yang kedap air dan elastis, bisa dimasukkan ke dalam mesin pendingin atau kulkas tanpa memakan tempat yang lebih banyak. Lalu, yang menjadi alasan utama biasanya karena kantong plastik bisa langsung dibuang begitu saja ketika sudah tidak digunakan, kita tidak perlu repot-repot mencucinya seperti jika kita memakai wadah bekal atau tempat yang bisa digunakan berkali-kali. Kita juga tidak perlu bergumul dengan bau tak sedap dari daging yang masih melekat pada tempat bekal kalau memakai kantong plastik.
Namun, dari segala kemudahan pemakaian kantong plastik tentunya timbul juga permasalahan sampah yang baru. Bahan dasar pembuatan plastik berasal dari minyak bumi yang di dalamya mengandung bahan kimia salah satunya polimer yang bernama polipropilen. Senyawa ini tidak bisa diuraikan dengan mudah melalui proses oksidasi atau mikroorganisme.
Hal ini menyebabkan proses penguraian plastik membutuhkan waktu yang lebih lama setelah ratusan ribu tahun. Itu hanya untuk satu produk plastik, faktanya adalah manusia memproduksi paling tidak 400 juta ton plastik setiap tahunnya. Butuh berapa juta abad sampai tanah dan laut di bumi bisa terbebas dari bahan sintesis tersebut?
Selain itu, sisa daging atau bau tak sedap yang masih tersisa di dalam kantong plastik kemudian akan mencemari udara sehingga menimbulkan bau yang tidak nyaman. Berdasarkan estimasi menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, timbulan sampah plastik sekali pakai saat momen Idul Adha di Indonesia diperkirakan meningkat hingga mencapai 608 ton.
Angka ini setara dengan 121,5 juta lembar kantong plastik. Nilai yang besar itu bukan sebuah pencapaian, satu lembar plastik dari satu individu memiliki kegentingan yang meresahkan bagi lingkungan. Bayangkan jika setiap tahun penggunaan plastik kian meningkat tanpa adanya kesadaran dari masyarakat itu sendiri?
Kantong Plastik Belum Cukup, Perlu Sampah Organik dari Hewan Kurban untuk Merusak Bumi
Kondisi lingkungan yang memburuk diindikasikan melalui banyaknya sampah organik seperti jeroan yang meningkat hingga 90% ditambah lagi dengan adanya kantong plastik. Penggunaan kantong plastik nyatanya bukan satu-satunya perkara yang perlu dibenahi. Pemotongan hewan kurban biasanya lebih diutamakan untuk membagi daging sama rata. Lalu, bagaimana dengan bagian lainnya seperti darah, tulang, kulit, dan jeroan?
Ketika bagian hewan tersebut kemudian tidak diminati atau tidak bernilai, ini menimbulkan masalah baru yaitu sampah organik. Menjadi masalah karena darah atau jeroan bisa mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik ketika proses pembuangan.
Dengan beban organik yang tinggi dan memiliki kandungan patogen, pengelolaan dalam pembuangan darah, tulang, hingga jeroan yang tidak diawasi akan menimbulkan pencemaran air, khususnya ketika limbah ini dibuang sembarangan ke saluran air atau sungai secara langsung. Selain itu, bagian jeroan dan darah hewan memiliki risiko tinggi untuk menyebarkan penyakit dan bakteri dengan cepat serta dapat mencemari air tanah.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
Dalam kenyataannya, pemerintah seringkali melakukan kampanye untuk menggunakan wajah alih-alih memakai kantong plastik dengan tujuan untuk mengurangi sampah lingkungan atau limbah organik. Namun, pada praktik di lapangannya adalah masih banyak ditemukan warga-warga yang kurang aware dengan permasalahan ini.
Kampanya melalui media digital seringkali luput dalam jangkauan masyarakat luas sebab masih banyak masyarakat desa, khususnya yang berusia tua dan tidak ‘melek’ literasi digital tidak mengetahui informasi atau arahan pemerintah.
Hal ini menyebabkan ketimpangan antara tujuan kampanye dan juga praktik eksekusi hewan kurban di dunia nyata. Perlunya meningkatkan daya wawasan masyarakat melalui sosialisasi atau pemerintah bisa memberikan fasilitas yang lebih mumpuni dalam menyelenggarakan Iduladha, misalnya dengan memberikan wadah yang bisa didaur ulang, membangun fasilitas untuk pengolahan limbah organik dengan benar, serta membantu dan mengawasi masyarakat secara langsung dalam penyelenggaraan penyembelihan hewan kurban.
Upaya-upaya tersebut bisa dilakukan oleh pihak pemerintah yang menurut saya masih sedikit sekali menjadi fokus aksi nyata pemerintah dalam menanggulangi permasalahan sampah. Kalaupun para masyarakat sudah lebih aware, tetapi jika tidak dibarengi dengan kebijakan atau regulasi tegas dari pemerintah, saya rasa itu semua juga akan tetap sia-sia.
Dalih menjalankan ibadah kian dinilai keluar dari jalur-jalur keharusan manusia untuk menjaga alam. Orang jadi sering tidak sadar bahwa menjalankan ibadah tidak semerta-merta menyelesaikan urusannya secara konvensional, melainkan juga memikirkan dampak besar dari apa yang telah dikerjakan sekaligus mencari penyelesaian yang solutif mengenai penimbunan sampah plastik tersebut.
Maka dari itu, perlunya kesadaran kolektif untuk menggunakan wadah yang bisa digunakan kembali untuk membungkus daging kurban. Dengan penggunaan wadah, kita dapat mengurangi jumlah sampah kantong plastik, sekaligus menjaga diri kita dari kontaminasi zat-zat berbahaya lainnya.
Terus, ke mana limbah organik ini dibuang? Perlu menjadi concern bersama bahwa ketika pelaksanaan kurban, kita harus menyiapkan lubang tanah dengan kedalaman minimal 1 meter yang juga berfungsi sebagai biopori. Biopori dapat memberikan manfaat untuk menyuburkan tanah melalui bantuan mikroorganisme.
Limbah organik akan mudah terurai apabila dikubur dalam tanah sebab banyak mikroorganisme yang membantu menguraikan zat-zat bahaya tersebut . Peningkatan aktivitas mikroorganisme seperti cacing tanah akan membentuk rongga dalam tanah yang juga berfungsi memaksimalkan proses peresapan air hujan.
Hal ini akan meminimalisasikan bencana seperti tanah longsor atau banjir yang disebabkan oleh kurangnya daerah resapan. Selain itu, perlu diketahui cara pengolahan daging kurban agar awet sehingga tidak terbuang sia-sia atau bisa saja kita distribusikan kembali ke saudara kita yang lebih membutuhkan.
Momen Iduladha 2026 adalah momen untuk saling berbag sebagai umat muslim. Bahkan, kita juga bisa saling memberi ke saudara kita yang lain. Kesempatan untuk mengejar pahala melalui ibadah tentunya tidak semata-mata dilihat dari berapa jumlah hewan kurban atau daging yang sudah kita berikan ke orang lain. Melainkan juga sudah seberapa besar langkah kita untuk melindungi bumi dari perayaan-perayaan yang seharusnya memberikan kebahagiaan.
Mari kita rayakan momentum kemenangan di tahun depan dengan refleksi tata kelola sampah yang lebih efektif dan efisien karena kemenangan beribadah adalah ketika kita mencapai kebahagian sesama dan untuk bumi kita semua.
Sumber Rujukan:
- Apsarini, A. (2022, Juli 13). Jika plastik berasal dari minyak dan gas, yang berasal dari tumbuhan, mengapa tidak dapat terurai? Retrieved from The Conversation: https://theconversation.com/jika-plastik-berasal-dari-minyak-dan-gas-yang-berasal-dari-tumbuhan-mengapa-tidak-dapat-terurai-186705
- Aulia, A., Azizah, R., Sulistyorini, L., & Rizaldi, M. A. (2023). Literature Review: Dampak Mikroplastik Terhadap Lingkungan. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 328-341.
- Saila, N., Hasanah, U., & Misdiyanto. (2025). SOSIALISASI PENTINGNYA PENGURANGAN SAMPAH PLASTIK DAN BAHAYA PLASTIK. SUBSERVE: Community Service and Empowerment Journal. Retrieved from https://journal.primeidentityhouse.com/index.php/SCSEJ/article/view/18
- Wahyudi, M. Z. (2021, Juli 8). Ganti Bungkus Daging Kurban dengan Kemasan Ramah Lingkungan. Retrieved from Kompas: https://www.kompas.id/artikel/ganti-bungkus-daging-kurban-dengan-kemasan-ramah-lingkungan
Redaksi menerima artikel opini dengan panjang cerita minimal 700 kata, dan tidak sedang dikirim ke media lain. Sumber rujukan disebutkan lengkap pada tubuh tulisan. Kirim tulisan ke e-mail redaksibenua@gmail.com disertai dengan foto profil, nomor kontak, dan profil singkat












Leave a Reply
View Comments