Membaca Menjadi Environmentalis Itu Gampang

Aksi Hari Bumi 2007 yang digelar oleh Walhi (Foto: Dalam buku berjudul Menjadi Environmentalis Itu Gampang)
Aksi Hari Bumi 2007 yang digelar oleh Walhi (Foto: Dalam buku berjudul Menjadi Environmentalis Itu Gampang)

MEMBACA buku berjudul Menjadi Environmentalis Itu Gampang yang diterbitkan oleh WALHI pada 2007, bagi saya sebagai pembaca bukan sekadar panduan populer bagi aktivisme lingkungan, atau mereka yang sejak awal terlibat dalam gerakan lingkungan.

Buku ini melampaui itu semua, karena merupakan refleksi panjang gerakan lingkungan hidup di Indonesia yang sejak awal tidak bisa dilepaskan dari peran Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).

Buku ini hadir sebagai jawaban atas kebutuhan membangun kesadaran kritis generasi muda terutama mereka yang terhubung dengan WALHI, dengan gaya penulisan ringan, penuh pesan mengugah dan banyak penjelasan yang mudah dimengerti.

Baca juga: Perempuan dan Masa Depan Terhadap Lingkungan

Sejak awal, terutama pada bagian pembuka, pembaca akan diajak untuk menengok kembali sejarah berdirinya WALHI. Awal mulanya, WALHI lahir dari pertemuan informal yang dimotori oleh Emil Salim dengan para aktivis pecinta alam, sehingga lahirlah apa yang dikenal sebagai “Kelompok Sepuluh” pada 1978.

Kelompok tersebut kemudian berkembang menjadi organisasi lingkungan skala nasional. Tepat pada 15 Oktober 1980, melalui Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup (PNLH) pertama, WALHI resmi dideklarasikan. Dari sinilah eksistensi gerakan lingkungan mulai menanjak dan menujukkan wujudnya.

Fase Perkembangan WALHI

Jika membaca secara seksama, buku Menjadi Environmentalis Itu Gampang menekankan tiga fase perkembangan WALHI yang disebut “daur”. Pada daur pertama yakni pendidikan kesadaran publik.

Pada awal mula lahirnya WALHI pada1980-an, organisasi ini banyak melakukan kampanye lingkungan bersama seniman dan mahasiswa, serta menerbitkan buku Neraca Tanah Air yang menampilkan kondisi lingkungan secara komprehensif.

Lalu pada daur kedua adalah demokratisasi kekayaan alam, di mana WALHI mulai mengarahkan advokasi terhadap kebijakan negara dan korporasi yang merugikan rakyat.

Terakhir, pada daur ketiga yakni perluasan gerakan lingkungan, di mana isu-isu seperti globalisasi, utang luar negeri, dan neoliberalisme semakin terhubung dengan perjuangan lingkungan.

Baca juga: Mediasi Buntu: Bank Mandiri Tetap Bantah Danai Perusahaan Perusak Lingkungan

Buku ini sangat menarik dari terutama dalam memposisikan WALHI bukan hanya sebagai organisasi advokasi, melainkan sebagai sekolah politik rakyat atau sekarang lebih familiar dikenal sebagai rumah gerakan rakyat.

Di tengah rezim otoriter Orde Baru, WALHI memilih format organisasi berupa forum jaringan, bukan organisasi tunggal. Tiga asas yang dipegang yakni, kemandirian, kerja nyata untuk masyarakat, dan bekerjasama tanpa ikatan.

Hal ini mencerminkan tekad untuk tetap kritis dan tidak mudah terkooptasi. Model jaringan ini memungkinkan ratusan NGO di seluruh Indonesia untuk bekerja bersama tanpa kehilangan identitas masing-masing.

Menjadi Environmentalis Itu Gampang mengurai medan pertempuran yang dihadapi WALHI. Mulai dari isu pangan, kemiskinan, energi, hingga globalisasi, semuanya ditampilkan sebagai problem struktural yang melibatkan negara dan korporasi transnasional.

Baca juga: Janji Iklim Indonesia Alami Kemunduran?

Misalnya, Revolusi Hijau yang digadang-gadang sebagai solusi atas kekurangan pangan, justru faktanya telah membuat petani sangat bergantung pada pupuk kimia dan benih hibrida. Begitu pula dengan dominasi energi fosil yang menyingkirkan potensi energi lokal.

Dalam konteks inilah, WALHI hadir menegaskan pentingnya kedaulatan rakyat atas sumber daya, sebuah gagasan yang kemudian dikenal sebagai “demokratisasi bumi”.

Salah satu bagian yang paling kuat dalam buku ini adalah kritik WALHI terhadap korporasi. Bab tentang “Kamuflase Korporasi Hijau” membongkar praktik greenwashing yang dilakukan korporasi besar untuk menutupi kerusakan lingkungan.

Contoh-contoh kasus kerusakan lingkungan seperti Shell di Nigeria atau perusahaan tambang di Indonesia termasuk Freeport, telah memperlihatkan betapa rapuhnya demokrasi ketika modal bisa membeli legitimasi.

Kritik serupa juga diarahkan pada globalisasi neoliberal, utang luar negeri, dan lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia dan IMF. Secara gamblang, buku ini telah memposisikan WALHI sebagai bagian dari gerakan lingkungan global yang menuntut keadilan ekologis.

Menawarkan Optimisme Gerakan

Walaupun, sarat akan kritik, akan tetapi buku ini tidak jatuh pada pesimisme. Namun, justru sebaliknya, Menjadi Environmentalis Itu Gampang menawarkan telah optimisme melalui langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan siapa saja.

Pada bagian akhir buku ini, terdapat panduan empat langkah sederhana untuk memulai menjadi seorang enviromentalis. Pertama, menilai situasi sekitar; Kedua, merencanakan pendekatan; Ketiga, melaksanakan rencana, dan; Keempat, belajar dari pengalaman.

Pesan utamanya adalah menjadi seorang environmentalis tidak harus rumit. WALHI ingin mengingatkan bahwa gerakan besar selalu lahir dari langkah kecil, dari keberanian rakyat untuk bersuara dan bertindak di lingkungannya sendiri.

Penting untuk dilihat, bahwa kekuatan utama buku Menjadi Environmentalis Itu Gampang adalah kemampuannya memadukan sejarah, analisis struktural, dan panduan praktis dalam satu rangkaian narasi.

Baca juga: Pidato Pangan Prabowo Kontradiktif

Pembaca tidak hanya diajak memahami masalah, tetapi juga dikenalkan pada tradisi gerakan WALHI yang penuh dinamika.

Di balik gaya populer, buku ini menyimpan pesan mengena, bahwa krisis ekologis di Indonesia adalah krisis politik dan ekonomi, dan hanya bisa diatasi dengan gerakan rakyat yang kritis.

Meski sudah terbit sejak 2007 lalu, akan tetapi relevansi buku ini, terutama pada tahun 2025 ini masih tetap kuat. Tentu, hampir dua dekade setelah diterbitkan, problem yang diangkat WALHI masih nyata.

Kita saat ini masih menghadapi deforestasi, ekspansi perkebunan sawit, krisis yang disebabkan oleh energi fosil, utang luar negeri, dan ketimpangan sosial.

Baca juga:Bank-Bank di Indonesia Belum Hijau

Justru di tengah krisis iklim global, gagasan “demokrasi bumi” yang ditawarkan WALHI semakin mendesak untuk diwujudkan.

Bagi generasi muda yang ingin terjun ke dunia advokasi lingkungan, buku ini adalah pintu masuk yang tepat—ringan dibaca, tapi sarat makna perjuangan.

Singkatnya, saya menganggap bahwa Menjadi Environmentalis Itu Gampang adalah manifesto sekaligus buku pegangan. Manifesto karena ia merumuskan kritik tajam terhadap model pembangunan global dan nasional. Pegangan karena ia memberikan jalan praktis bagaimana memulai langkah sebagai environmentalis.

Dan di antara keduanya, kita melihat peran penting WALHI sebagai motor gerakan lingkungan hidup di Indonesia, yang tidak hanya bertahan lebih dari empat dekade, tetapi juga terus beradaptasi menghadapi tantangan zaman.

 


Redaksi menerima artikel opini dengan panjang cerita minimal 700 kata, dan tidak sedang dikirim ke media lain. Sumber rujukan disebutkan lengkap pada tubuh tulisan. Kirim tulisan ke e-mail redaksibenua@gmail.com disertai dengan foto profil, nomor kontak, dan profil singkat.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur