- Di Pohuwato, aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) mengubah bentang alam menjadi kubangan yang menjadi tempat ideal berkembang biaknya nyamuk malaria.
- Di tengah lonjakan kasus dan status KLB yang belum dicabut, warga kini hidup berdampingan dengan wabah yang tumbuh dari kerusakan lingkungan itu sendiri.
- Sementara pengobatan berjalan, sumber persoalan di hulu—hutan yang rusak dan pencemaran merkuri—masih terus mengalir tanpa henti.
Di Pohuwato, perubahan lingkungan akibat aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang menggunakan alat berat tidak hanya terlihat dari petani yang gagal panen atau tanah yang terbuka atau hutan yang hilang. Kondisi itu juga mulai tercermin dalam tubuh warganya. Air yang menggenang, udara yang berubah, dan ekosistem yang terganggu menciptakan kondisi yang tidak lagi stabil bagi kehidupan manusia.
Di banyak titik, batas antara ruang tambang dan permukiman menjadi kabur. Lumpur, genangan, dan debu menjadi bagian dari keseharian. Dalam kondisi seperti itu, membuat malaria tidak lagi sekadar penyakit tropis, tetapi menjadi cermin dari kerusakan lingkungan yang lebih luas di Pohuwato.
Sudah Berlangganan? Masuk Di Sini
- ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
- ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
- ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
- ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan
Kami menerima metode pembayaran












Leave a Reply
View Comments