Gambar udara yang menunjukkan luasnya deforestasi di lahan gambut yang kaya karbon dalam konsesi kayu pulp PT Mayawana Persada Juli 2023, (Foto: Auriga Nusantara)
Gambar udara yang menunjukkan luasnya deforestasi di lahan gambut yang kaya karbon dalam konsesi kayu pulp PT Mayawana Persada Juli 2023, (Foto: Auriga Nusantara)

B+Perusahaan Kayu Hancurkan Hutan Alam dan Gambut Kalimantan, Ancam Habitat Orangutan

  • Hutan alam dan lahan gambut di Indonesia masih terus terbabat walaupun berbagai aturan ada dari  peraturan setop izin di hutan alam dan lahan gambut sampai kebijakan perlindungan gambut. Kasus penebangan hutan alam di lahan gambut terjadi di konsesi perusahaan kayu, PT Mayawana Persada (Mayawana) di Kayong Utara, Kalimantan Barat.
  • Sejak 2021-2023, Mayawana menghancurkan hutan alam lebih 33.000 hektar atau seluas hampir setengah ukuran Singapura. Angka itu menyumbang lebih dari seperempat deforestasi di ratusan konsesi perkebunan kayu pulp dan sawit di seluruh nusantara.
  • Aktivitas itu juga dibarengi konflik dengan komunitas lokal yang tinggal di dalam dan dekat konsesi perusahaan. Menurut petisi Barisan Pemuda Adat Nusantara, tanah leluhur Komunitas Kualan Hilir tumpang tindih dengan 3.650 hektar konsesi Mayawana. Pada Mei 2020, perwakilan Mayawana dengan pemimpin komunitas membuat kesepakatan melarang bagian dari tanah leluhur mereka tidak dibangun perkebunan kayu pulp.
  • Menurut peta habitat terbitan International Union for the Conservation of Nature (IUCN), sekitar 49.208 hektar hutan dalam konsesi PT Mayawana merupakan habitat yang sesuai untuk orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Penelitian Analisis Viabilitas Habitat pada 2016 memastikan, hutan dan gambut di konsesi PT Mayawana itu sesuai untuk jadi habitat orangutan.

Pada Kamis, 21 Maret lalu, merupakan Hari Hutan Dunia. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa mencanangkan momen ini untuk merayakan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya semua jenis hutan. Pada setiap Hari Hutan Dunia, semua negara-negara, termasuk Indonesia didorong untuk melakukan upaya dalam melestarikan hutan.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • Berita kredibel tanpa intervensi
  • Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS Dan lainnya
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.