- Suku Bajo Torosiaje membangun permukiman di atas laut dengan tata ruang yang secara alami adaptif terhadap kondisi pesisir dan perubahan iklim.
- Seluruh sistem hidup mereka—rumah, transportasi, dan ruang wilayah—dirancang berdasarkan pembacaan alam dan kearifan lokal, bukan teknologi modern.
- Cara hidup Suku Bajo menunjukkan bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim bisa efektif melalui pengetahuan tradisional yang selaras dengan lingkungan.
Dari kejauhan, Torosiaje tampak seperti gugusan rumah panggung yang mengapung di tengah Teluk Tomini. Ratusan atap seng dan rumbia berjajar rapi mengikuti alur tanjung berbentuk huruf U, dihubungkan oleh jembatan kayu sepanjang hampir empat kilometer.
Tak ada satu pun rumah yang menyentuh daratan. Di bawahnya, air laut pasang surut setiap hari, dan di situlah generasi demi generasi Suku Bajo hidup, tidur, memasak, dan membesarkan anak-anak mereka.
Dulu, sebelum permukiman ini terbentuk, orang-orang Bajo bahkan tidak membutuhkan rumah sama sekali. Perahu adalah rumah mereka—tempat memasak, tidur, dan menghabiskan waktu bersama keluarga, sembari terus berpindah mengikuti laut.
Torosiaje, sebuah desa di Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo, adalah salah satu titik di mana pengembara laut ini akhirnya “berlabuh” dan membangun permukiman tetap, meski tetap setia pada elemen yang paling mereka kenal: air.
Yang menarik, permukiman yang tampak sederhana ini menyimpan sistem penataan ruang yang jauh dari asal-asalan.
Penelitian yang dilakukan Umar, dosen Program Studi Arsitektur Universitas Ichsan Gorontalo, mengungkap bagaimana kearifan lokal Suku Bajo di Torosiaje justru menghasilkan pola tata ruang yang secara alami adaptif terhadap perubahan iklim—jauh sebelum istilah itu populer dalam wacana pembangunan modern.
Ketika Reklamasi Bukan Jawaban
Persoalan yang mendasari penelitian ini sebenarnya sangat kontemporer: bagaimana kawasan pesisir bisa menampung pertambahan penduduk tanpa merusak ekosistem laut yang menjadi sumber kehidupan warganya sendiri. Selama ini, solusi yang sering ditempuh di banyak wilayah pesisir adalah reklamasi pantai—menimbun laut untuk menciptakan lahan baru.
Cara ini, menurut kajian tersebut, jauh dari ideal. Reklamasi kerap merusak ekosistem laut dan membuat nelayan kehilangan sumber penghidupan mereka. Torosiaje menawarkan jalan yang sama sekali berbeda: alih-alih menimbun laut, masyarakat Bajo memilih membangun di atasnya, menyesuaikan diri dengan ritme air alih-alih melawannya.
Desa yang berdiri sejak tahun 1901 ini kini terbagi menjadi dua wilayah administratif: Torosiaje Jaya yang berada di daratan, dikenal warga sebagai “Torosiaje Darat”, dan Torosiaje yang berdiri di atas perairan, disebut “Torosiaje Laut”.
Nama Torosiaje sendiri berasal dari bahasa Bajo—toro berarti tanjung, dan siaje berarti persinggahan. Sebuah nama yang, secara harfiah, sudah menceritakan asal-usul desa ini sebagai tempat singgah para pengembara laut.

Membaca Alam Sebelum Membangun
Yang membedakan Torosiaje dari sekadar “kampung di atas air” adalah bagaimana setiap elemen tata ruangnya lahir dari pembacaan cermat terhadap kondisi alam sekitar—jauh sebelum ada insinyur atau perencana kota yang turun tangan.
Posisi desa, misalnya, tidak dipilih secara acak. Torosiaje berdiri di sebuah tanjung yang menjorok ke laut, diapit oleh dua sungai—Popayato dan Dudewulo—serta dua pulau kecil di depannya yang oleh warga hanya disebut Pulau Besar dan Pulau Kecil.
Kedua pulau ini bukan sekadar pemandangan; fungsinya adalah melindungi permukiman dari terpaan angin barat dan angin timur yang datang bergantian sepanjang tahun.
Bentuk permukiman pun mengikuti lekuk tanjung yang menyerupai huruf U, menghadap ke laut lepas. Di bagian tengah “U” itulah terdapat perairan yang berfungsi sebagai muara sekaligus jalur sirkulasi perahu—jalan raya versi Torosiaje.
Sementara sisi kiri dan kanan tanjung menjadi area utama tempat rumah-rumah berdiri berderet secara linear, mengikuti jalur pedestrian penghubung antarunit rumah.
Sekitar 500 meter di depan ujung permukiman, terumbu karang membentang menjadi benteng alami yang menahan dan memecah gelombang sebelum sampai ke rumah-rumah warga.
Di titik itu berdiri sebuah bendera putih—bukan sekadar penanda administratif, melainkan simbol yang memberi tahu siapa pun yang mendekat bahwa mereka telah memasuki wilayah perkampungan Suku Bajo.
Bahkan arah pandang ke daratan pun punya makna praktis. Di belakang permukiman, dua gunung kembar yang disebut warga sebagai Gunung Ganakan menjadi penunjuk arah bagi para nelayan yang pulang-pergi melaut.
Uniknya, gunung ini selalu diselimuti awan sepanjang tahun, ciri yang membedakannya dari gunung-gunung lain di sekitarnya—menjadikannya semacam kompas alami bagi mereka yang tak pernah menggunakan kompas sungguhan.
Rumah yang “Menari” Bersama Ombak
Bicara soal rumah itu sendiri, arsitektur warga Torosiaje memperlihatkan kecerdasan teknis yang lahir murni dari pengalaman turun-temurun, bukan dari kalkulasi struktur modern.
Rumah-rumah di Torosiaje berbentuk panggung, berbahan kayu, dengan atap berbentuk pelana dan sebagian perisai yang ditutup seng atau rumbia. Tiang-tiang penyangganya setinggi 3 hingga 4 meter, ditancapkan ke dasar perairan sedalam kurang lebih satu meter.
Setiap rumah ditopang oleh 16 hingga 20 tiang—dan semakin banyak tiang yang digunakan, semakin kecil getaran yang dirasakan penghuninya akibat gelombang laut.
Ini bukan detail sepele. Di sebuah permukiman yang berdiri di atas perairan dangkal sedalam 0,5 hingga 2 meter, dengan ketinggian tempat hanya sekitar 3 meter dari permukaan air laut, setiap guncangan ombak berpotensi mengganggu kestabilan bangunan.
Jumlah tiang yang banyak menjadi solusi sederhana namun efektif untuk meredam getaran tersebut—sebuah bentuk rekayasa struktur yang lahir dari coba-coba lintas generasi, bukan dari laboratorium teknik sipil.
Rumah-rumah ini berdiri padat, hanya berjarak 2 sampai 3 meter satu sama lain, tersusun mengikuti jalur pedestrian yang menghubungkan setiap unit. Total ada sekitar 245 rumah yang membentang sepanjang kurang lebih dua kilometer, dengan lebar permukiman sekitar satu kilometer.

Sirkulasi Ganda: Perahu dan Jembatan Kayu
Karena berdiri di atas laut, Torosiaje mengembangkan sistem sirkulasi yang unik: dua jalur transportasi yang berjalan berdampingan. Perahu—yang oleh warga setempat disebut katingting—digunakan untuk mencapai desa dari daratan, sementara jalur pedestrian berupa jembatan kayu menghubungkan setiap unit rumah satu sama lain.
Jembatan pedestrian ini kini terbentang sepanjang sekitar 4.000 meter, menghubungkan dua ujung perkampungan. Kehadirannya memudahkan warga menjalin hubungan sosial dengan tetangga, baik yang dekat maupun yang berada di ujung desa yang jauh.
Pola sirkulasi ini berkembang mengikuti arah pertumbuhan permukiman itu sendiri—setiap kali ada penambahan unit rumah baru, jaringan jalur pedestrian pun ikut memanjang mengikutinya.
Di dalam permukiman juga terdapat ruang terbuka berupa lapangan yang digunakan untuk kegiatan olahraga, sosial, dan bermain anak-anak—ruang publik yang rencananya akan dikembangkan pemerintah Kabupaten Pohuwato menjadi taman terbuka.
Hutan Bakau sebagai Perisai
Salah satu elemen tata ruang yang paling mencerminkan kearifan ekologis Suku Bajo adalah keberadaan hutan bakau yang membentang di antara Torosiaje Jaya (daratan) dan Torosiaje Laut (perairan).
Hutan mangrove ini bukan sekadar pemandangan hijau, melainkan dijaga secara sengaja oleh warga karena fungsi gandanya: menjaga keberlangsungan ekosistem laut sekaligus mencegah erosi di pesisir pantai.
Pembagian fungsi lahan pun dilakukan dengan cermat. Lahan pertanian ditempatkan di Torosiaje Darat, sementara lahan tambak berada di sebelah timur, memisahkan aktivitas budidaya darat dan laut agar tidak saling mengganggu.
Pembagian ruang berdasarkan fungsi ekologis semacam ini menunjukkan bahwa masyarakat Bajo memahami betul batas kemampuan lingkungan mereka—sebuah prinsip yang dalam bahasa perencanaan modern disebut daya dukung lingkungan.\

Adaptasi yang Lahir dari Insting, Bukan Instruksi
Bagian paling menarik dari kajian ini adalah kesimpulannya: seluruh pola tata ruang di Torosiaje, mulai dari penentuan lokasi, bentuk bangunan, hingga sistem sirkulasi, pada dasarnya adalah bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim—meski tidak pernah dirancang dengan label tersebut.
Posisi permukiman yang menjorok keluar dari bibir pantai dan tidak bersambung langsung dengan daratan membuat Torosiaje relatif tidak terdampak oleh pasang surut air laut. Perlindungan alami dari dua pulau kecil di depan desa meredam hantaman angin. T
erumbu karang di ujung permukiman memecah gelombang sebelum mencapai rumah warga. Hutan mangrove menahan erosi. Struktur rumah panggung dengan belasan tiang meredam guncangan ombak.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa pola adaptasi Suku Bajo di Torosiaje terhadap perubahan iklim terwujud dalam dua bentuk utama: adaptasi budaya dan adaptasi tingkah laku.
Adaptasi budaya tercermin dari hukum adat dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun, yang mengatur bagaimana manusia semestinya berhubungan dengan laut—bukan menaklukkannya, melainkan menyesuaikan diri dengannya.
Sementara adaptasi tingkah laku terlihat dari kebiasaan sehari-hari warga dalam membaca tanda-tanda alam, dari arah angin hingga bentuk awan di puncak gunung, untuk menentukan kapan dan ke mana mereka boleh melaut.
Pelajaran dari Kampung di Tengah Laut
Di tengah dunia yang tengah bergulat mencari solusi menghadapi kenaikan permukaan air laut dan cuaca ekstrem yang kian tak menentu, kampung kecil di Teluk Tomini ini menawarkan sebuah perspektif yang jarang dilirik: bahwa jawaban atas krisis iklim tidak selalu harus datang dari teknologi mutakhir atau infrastruktur bernilai triliunan rupiah.
Kadang, jawabannya sudah ada—diwariskan diam-diam dari generasi ke generasi, tertanam dalam cara sebuah komunitas memilih lokasi rumahnya, menyusun tiang-tiang penyangganya, dan menjaga hutan bakau yang melindungi mereka. Suku Bajo di Torosiaje tidak pernah menyebut diri mereka ahli tata ruang atau arsitek iklim.
Namun, seperti yang ditunjukkan penelitian ini, merekalah yang selama lebih dari satu abad telah mempraktikkan apa yang kini disebut dunia sebagai pembangunan berkelanjutan yang tangguh terhadap perubahan iklim—bukan lewat teori, melainkan lewat cara hidup sehari-hari di atas air yang tak pernah berhenti bergerak.
Ditulis berdasarkan hasil penelitian “Pola Pemanfaatan dan Penataan Ruang Kawasan Pemukiman Terapung yang Adaptif terhadap Perubahan Iklim (Studi Kasus: Pemukiman Desa Torosiaje di Kabupaten Pohuwato)” oleh Umar, Dosen Program Studi Arsitektur.







Leave a Reply
View Comments