- Panas ekstrem dapat merusak jantung dan meningkatkan risiko kematian akibat gangguan kardiovaskular.
- Suhu tubuh permukaan tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya, sehingga pengukuran suhu inti penting untuk diagnosis sengatan panas.
- Pencegahan dan deteksi dini, terutama pada kelompok rentan, sangat penting untuk mengurangi dampak heat stroke.
Seorang pemuda berusia awal dua puluhan berolahraga di tengah cuaca 38 derajat Celsius. Tak lama kemudian ia ambruk. Jantungnya berhenti berdetak normal—fibrilasi ventrikel, kondisi kelistrikan jantung yang kacau dan mematikan.
Anehnya, ketika petugas medis mengukur suhu tubuhnya dari ketiak, angkanya normal: 36,6 derajat Celsius. Tak ada tanda demam tinggi yang biasa dikaitkan dengan sengatan panas atau heat stroke.
Belakangan diketahui, suhu inti tubuhnya—yang diukur lewat rektal—sudah menembus 40 derajat lebih. Jantungnya sudah “terbakar” dari dalam, sementara kulitnya berbohong soal apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh.
Kisah semacam ini bukan kasus tunggal. Ia menjadi salah satu temuan dalam penelitian tim dokter muda dari Program Studi Kedokteran Universitas Negeri Gorontalo, yang dipublikasikan di Jurnal Kolaboratif Sains pada Desember 2025.
Penelitian yang dipimpin Nayla Prima Dyta bersama lima rekannya ini mengurai bagaimana panas ekstrem—yang kian sering melanda dunia akibat perubahan iklim—bisa meruntuhkan sistem kardiovaskular manusia, kadang dalam hitungan jam.
Dunia yang Makin Panas, Jantung yang Makin Rentan
Laporan Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) telah lama memperingatkan bahwa gelombang panas akan datang lebih sering, lebih lama, dan lebih menyengat. Yang mungkin belum banyak disadari orang adalah bahwa ancaman ini bukan cuma soal dehidrasi atau pingsan ringan.
Panas ekstrem, menurut penelitian tersebut, adalah ancaman serius bagi jantung dan pembuluh darah.
Untuk membuktikannya, tim peneliti menempuh dua jalur sekaligus. Pertama, mereka menganalisis data iklim dan kesehatan selama 15 hingga 20 tahun menggunakan model statistik canggih bernama Distributed Lag Non-linear Model (DLNM)—metode yang mampu menangkap efek suhu terhadap kesehatan yang muncul belakangan, bukan seketika.
Kedua, mereka mengamati langsung pasien-pasien yang datang ke rumah sakit rujukan akibat sengatan panas selama dua musim panas berturut-turut.
Hasilnya cukup mengejutkan. Setiap kenaikan suhu 1 derajat Celsius di atas ambang batas lokal berasosiasi dengan peningkatan risiko kematian akibat gangguan kardiovaskular sebesar 2,1 persen.
Angka ini mungkin terdengar kecil, tapi efeknya berlipat ganda ketika gelombang panas melanda satu wilayah selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu—sebagaimana terjadi pada gelombang panas Kanada Barat tahun 2021, yang memicu lonjakan kematian mendadak akibat sengatan panas dan henti jantung.
Peristiwa serupa pernah terjadi di Eropa pada 2003, Rusia pada 2010, dan India pada 2015. Pola yang muncul selalu sama: unit gawat darurat kebanjiran pasien dengan gangguan irama jantung, tekanan darah anjlok, pingsan mendadak, hingga serangan jantung.
Jantung yang Dipaksa Bekerja Ganda
Untuk memahami mengapa panas bisa sedemikian mematikan bagi jantung, penelitian ini menelusuri apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh saat suhu lingkungan melonjak.
Tubuh manusia, ketika kepanasan, punya satu cara utama untuk membuang panas: melebarkan pembuluh darah di kulit agar darah hangat bisa “didinginkan” di permukaan tubuh. Untuk mendukung proses ini, jantung dipaksa memompa lebih cepat dan lebih banyak darah.
Pada tahap awal, mekanisme ini justru membuat sirkulasi tampak sangat aktif—tekanan darah dan fungsi pemompaan jantung terlihat prima.
Masalahnya, kondisi ini tidak bertahan lama. Keringat yang terus mengucur mengurangi volume cairan dalam pembuluh darah. Pembuluh darah yang melebar membuat darah “menggenang” di jaringan perifer, sehingga jumlah darah yang kembali ke jantung berkurang.
Di titik inilah tubuh masuk ke situasi paradoks: jantung dituntut bekerja keras, sementara pasokan darah yang bisa dipompanya justru menyusut.
Dalam penelitian ini, gambaran itu terlihat jelas lewat pemeriksaan ekokardiografi berkala. Pada fase awal, jantung pasien tampak hiperaktif dengan detak dan fraksi ejeksi (kemampuan memompa darah) yang tinggi.
Namun dalam rentang 24 hingga 48 jam setelahnya, banyak pasien justru mengalami penurunan fraksi ejeksi dan pelemahan otot jantung—kondisi yang disebut myocardial stunning, semacam “syok sesaat” pada otot jantung akibat cedera sel yang bersifat sementara namun berbahaya.
Lebih dari 40 persen pasien dalam kelompok yang diteliti bahkan memerlukan obat penopang tekanan darah dan penguat kontraksi jantung karena cairan infus saja tidak lagi cukup menyelamatkan sirkulasi mereka.
Bukti dari Darah: Jantung yang Menjerit Diam-diam
Selain memantau detak jantung dan tekanan darah, para peneliti juga menelusuri jejak kerusakan lewat pemeriksaan darah. Hasilnya memperkuat dugaan bahwa sengatan panas bukan sekadar gangguan suhu, melainkan serangan langsung terhadap sel-sel jantung.
Sekitar 70 persen pasien dalam penelitian ini menunjukkan kadar troponin—penanda kerusakan otot jantung—di atas ambang normal. Sementara itu, 55 persen pasien mengalami peningkatan BNP, penanda yang biasa dipakai untuk mendeteksi gagal jantung.
Temuan ini menegaskan bahwa kerusakan jantung akibat panas bukan cuma bersifat fungsional dan sementara, tapi juga melibatkan kerusakan sel yang nyata.
Penanda lain yang tak kalah penting adalah interleukin-6 (IL-6), penanda peradangan sistemik, dan D-dimer, penanda gangguan pembekuan darah. Ketika kedua penanda ini melonjak tinggi—IL-6 di atas 80 pg/mL dan D-dimer di atas 1,5 µg/mL—risiko pasien jatuh ke kondisi gagal multi-organ meningkat tajam.
Di level sel, panas di atas 40 derajat Celsius memicu kerusakan pada mitokondria, “pembangkit energi” sel jantung. Struktur mitokondria membengkak, membran selnya rusak, dan sel-sel otot jantung mulai mengalami kematian terprogram (apoptosis).
Proses ini diperparah oleh radikal bebas yang merusak lemak, protein, bahkan DNA sel. Peradangan yang menyertainya semakin menekan kemampuan jantung berkontraksi, menciptakan lingkaran setan yang mempercepat kegagalan sirkulasi.
Ketika Gejala Menipu
Salah satu temuan paling mengkhawatirkan dari penelitian ini adalah betapa mudahnya sengatan panas luput dari deteksi dini, justru karena gejalanya sering menyesatkan.
Beberapa pasien datang dengan keluhan yang sangat mirip serangan jantung koroner biasa: nyeri dada, sesak napas, dan kadar troponin yang tinggi. Namun ketika diperiksa lebih lanjut lewat angiografi, tidak ditemukan sumbatan pada pembuluh koroner mereka.
Kondisi ini kemungkinan besar adalah bentuk cedera jantung akibat ketidakseimbangan pasokan dan kebutuhan oksigen akibat panas, bukan penyumbatan pembuluh darah seperti serangan jantung pada umumnya.
Masalah lain yang disorot para peneliti adalah keterbatasan pengukuran suhu di permukaan tubuh. Kasus pemuda dengan fibrilasi ventrikel yang disebutkan di awal tulisan ini bukan pengecualian.
Dalam beberapa kasus lain, pasien datang dengan suhu ketiak atau telinga yang tampak normal, padahal suhu rektalnya sudah melewati 40,5 derajat Celsius.
Ini terjadi karena saat sirkulasi darah mulai gagal, pembuluh darah di kulit justru menyempit sehingga panas dari dalam tubuh tidak sempat “bocor” ke permukaan.
Akibatnya, tenaga medis yang hanya mengandalkan termometer ketiak atau dahi bisa salah menilai kondisi pasien sebagai tidak gawat, padahal di dalam tubuh sedang terjadi krisis.
Keterlambatan pendinginan akibat kesalahan penilaian ini, menurut penelitian tersebut, berkaitan erat dengan buruknya hasil akhir perawatan pasien.
Dalam kasus-kasus paling berat, komplikasi lanjutan seperti gangguan pembekuan darah menyeluruh (DIC), gagal ginjal akut, dan kerusakan hati muncul dalam rentang 48 hingga 72 jam setelah gejala awal.
Semua ini menegaskan bahwa sengatan panas, jika tidak ditangani cepat dan tepat, dapat berkembang menjadi kegagalan banyak organ sekaligus.
Siapa yang Paling Rentan?
Penelitian ini juga menyoroti bahwa beban akibat panas ekstrem tidak dipikul secara merata oleh semua orang. Lansia di atas 65 tahun, penderita penyakit jantung sebelumnya, dan kelompok dari latar belakang ekonomi rendah secara konsisten menunjukkan kerentanan lebih tinggi.
Pada lansia, penurunan kemampuan tubuh mengatur suhu berpadu dengan konsumsi obat-obatan seperti diuretik atau beta-blocker yang justru menghambat proses pembuangan panas atau memperparah dehidrasi.
Cadangan jantung yang sudah menurun seiring usia membuat mereka jauh lebih sulit beradaptasi dengan lonjakan suhu mendadak.
Sementara itu, kelompok pekerja luar ruangan—petani, buruh bangunan, penambang—menghadapi risiko berlapis karena harus terpapar panas dalam waktu lama sambil melakukan aktivitas fisik berat.
Penelitian yang dirujuk dalam kajian ini mencatat peningkatan penanda stres jantung dan tingkat ketidakhadiran kerja akibat panas yang cukup signifikan pada kelompok ini.
Faktor kesenjangan sosial ekonomi turut memperparah keadaan. Warga di permukiman padat perkotaan dengan sirkulasi udara buruk—yang dikenal sebagai fenomena “pulau panas kota”—dan akses terbatas ke fasilitas pendingin maupun layanan kesehatan cepat, cenderung mengalami keterlambatan penanganan saat gejala sengatan panas muncul.
Proyeksi ke depan pun tak kalah mengkhawatirkan. Model iklim memperkirakan kematian akibat gelombang panas yang berkaitan dengan gangguan kardiovaskular di kawasan perkotaan tropis dan subtropis dapat meningkat hingga 120 persen pada pertengahan abad ini, bahkan dengan upaya mitigasi yang moderat.
Pelajaran untuk Sistem Kesehatan
Dari seluruh temuan ini, para peneliti menyimpulkan bahwa sengatan panas bukan sekadar persoalan suhu tubuh yang naik, melainkan darurat kardiovaskular sistemik yang melibatkan tiga proses yang saling mengunci: beban berlebih pada sistem pengatur suhu tubuh, cedera langsung pada otot jantung, dan kegagalan sirkulasi darah.
Implikasinya cukup jelas bagi dunia kesehatan. Pertama, pemantauan suhu inti tubuh lewat rektal atau esofagus perlu menjadi standar dalam penanganan kasus sengatan panas berat, karena suhu permukaan kulit terbukti bisa menyesatkan.
Kedua, pemeriksaan biomarker seperti troponin, BNP, IL-6, dan D-dimer dapat membantu tenaga medis mendeteksi lebih dini pasien yang berisiko jatuh ke kondisi kritis, sebelum gejala klinis yang jelas muncul.
Ketiga, kebijakan kesehatan masyarakat—mulai dari rencana aksi menghadapi gelombang panas, penyediaan pusat pendinginan bagi warga rentan, hingga aturan jam kerja luar ruangan bagi buruh—perlu diperkuat dan dijalankan secara merata, terutama di wilayah dengan penduduk padat dan akses layanan kesehatan yang timpang.
Sebagai penutup, para peneliti menekankan pentingnya riset lanjutan pada pengembangan alat pemantau kesehatan yang bisa dikenakan (wearable biosensor) untuk mendeteksi tanda-tanda awal stres akibat panas pada kelompok berisiko tinggi, seperti pekerja luar ruangan, atlet, dan personel militer.
Sistem peringatan dini berbasis kecerdasan buatan yang menggabungkan data cuaca, klinis, dan biomarker juga disebut sebagai arah masa depan yang menjanjikan.
Di tengah bumi yang kian memanas, kisah pemuda dengan jantung yang berhenti berdetak di tengah suhu tubuh yang tampak “normal” barangkali menjadi pengingat penting: ancaman perubahan iklim tidak selalu tampak jelas di permukaan.
Kadang, ia bersembunyi di balik angka termometer yang keliru, sementara di dalam tubuh, jantung sedang berjuang sendirian melawan panas yang tak lagi bisa ia tanggung.
Ditulis berdasarkan hasil penelitian “Cardiovascular Dysregulation in Heat Stroke Driven by Climate Change: Pathophysiology and Clinical Implications” oleh Nayla Prima Dyta, dkk., dipublikasikan di Jurnal Kolaboratif Sains, Volume 8 No. 12, Desember 2025.













Leave a Reply
View Comments