B+Kerang Hijau dari Laut Jawa Mengandung Mikroplastik Tinggi

Kandungan logam berat pada kerang hijau umumnya masih dalam batas aman, tetapi mikroplastik berkategori bahaya tinggi.

Kerang hijau. Sumber foto: Pinterest
Kerang hijau. Sumber foto: Pinterest
  • Kerang hijau dapat menyerap dan mengakumulasi pencemar dari laut, sehingga bisa menjadi indikator kondisi pencemaran perairan.
  • Kandungan logam berat pada kerang umumnya masih dalam batas aman, meskipun timbal di beberapa wilayah perlu diperhatikan.
  • Mikroplastik menjadi masalah yang lebih serius, sehingga diperlukan pengawasan dan pengurangan pencemaran di wilayah pesisir.

Kerang hijau selalu punya tempat istimewa di meja makan masyarakat pesisir utara Jawa. Harganya murah, dagingnya gurih, kandungan proteinnya tinggi—sekitar 67 persen dari bobot tubuhnya—dan karena biasanya disantap utuh tanpa membuang bagian pencernaannya, ia jadi sumber protein favorit nelayan hingga warga kota. Tapi di balik kelezatan itu, kerang hijau punya satu sifat yang membuatnya juga menjadi “saksi bisu” paling jujur soal seberapa tercemar laut tempat ia dibudidayakan.

Perna viridis, nama ilmiah kerang hijau, adalah hewan penyaring (filter feeder) yang menghirup air laut dalam jumlah besar setiap hari untuk menangkap plankton sebagai makanannya. Proses itu membuatnya juga menyerap apa pun yang terlarut dalam air, termasuk logam berat dan partikel plastik mikroskopis, lalu mengakumulasinya dalam jaringan tubuh pada kadar yang jauh lebih tinggi dibanding konsentrasi di lingkungan sekitarnya—tanpa menunjukkan tanda keracunan apa pun pada dirinya sendiri.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
  • ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS ♦ Dan lainnya
Baca juga:  Mikroplastik Cemari Perairan Gorontalo
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.