B+Mikroplastik yang Tersembunyi di Bawah Permukaan Laut Banggai

Laut Banggai mengalami pencemaran mikroplastik yang tinggi hingga laut dalam

Sampah di Lautan (Foto: Greenpeace Indonesia)
Sampah di Lautan (Foto: Greenpeace Indonesia)
  • Mikroplastik mencemari Laut Banggai hingga laut dalam, dengan konsentrasi yang cukup tinggi dan didominasi oleh serat plastik.
  • Pencemaran berasal dari berbagai sumber, terutama limbah daratan melalui sungai dan arus laut dari Samudra Pasifik.
  • Upwelling memengaruhi penyebaran mikroplastik, dengan mengaduk dan mendistribusikannya ke berbagai lapisan kedalaman laut.

Dari atas kapal riset Baruna Jaya VIII, laut tampak biru jernih tanpa cela, seperti gambaran ideal perairan tropis Indonesia timur. Tapi yang tak terlihat mata telanjang di Laut Banggai, Sulawesi Tengah, adalah ribuan partikel plastik berukuran mikroskopis yang melayang di berbagai kedalaman, dari permukaan hingga seribu meter di bawahnya—lebih dalam dari sebagian besar terumbu karang dan jauh di bawah jangkauan sinar matahari.

Temuan ini datang dari penelitian yang terbit di jurnal Water Biology and Security, dilakukan oleh tim peneliti gabungan dari Universitas Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universiti Malaysia Terengganu, dan IPB University, dipimpin Noer Kholis dan Mufti Petala Patria.

Untuk melanjutkan membaca artikel ini
Langganan Sekarang
Cek paket yang tersedia
  • ✓ Dengan berlangganan kamu mendukung independensi media lokal
  • ✓ Akses seluruh berita eksklusif di situs ini
  • ✓ Berita kredibel tanpa intervensi
  • ✓ Baca nyaman dengan lebih sedikit iklan

Kami menerima metode pembayaran

DANA gopay OVO ShopeePay QRIS ♦ Dan lainnya
Baca juga:  Asa Nelayan dan Masyarakat Pesisir Indonesia Pasca Pemilu 2024
Sarjan Lahay adalah jurnalis lepas di Pulau Sulawesi, tepatnya di Gorontalo. Ia sangat tertarik dengan isu lingkungan dan perubahan iklim. Ia juga sering menerima berbagai beasiswa liputan, baik dalam negeri maupun luar negeri untuk menceritakan berbagai macam isu dampak perubahan iklim, kerusakan lingkungan yang dilakukan industri ekstraktif, hingga cerita masyarakat adat yang terus terpinggirkan. Sejak 2019, Sarjan terjun ke dunia jurnalistik, dan pada Tahun 2021 hingga sekarang menjadi jurnalis lepas di Mongabay Indonesia.